Terowongan KA Legendaris di Indonesia bag. I

Kereta api, angkutan massal beroda besi ini jadi primadona dikalangan masyarakat. Selain jarak tempuh yang lumayan singkat dan murah, juga menyimpan berbagai keindahan alam yang dapat dijumpai sepanjang lintas operasinya. Mulai dari pegunungan, jurang, jembatan yang panjang dan tinggi dan juga terowongan.

Oke, kali ini saya akan menuliskan tentang terowongan kereta api yang ada di Indonesia dilintas aktif dan juga non-aktif yang saya sadur dari Majalah KA dan beberapa sumber lainnya termasuk pribadi.

Terowongan Sasaksaat
Terpanjang Di Lintas Operasi

20140205-003024.jpg (Foto: Adit Yahya, KaskuSepur)

Nuansa perjalanan KA lintas Jakarta-Bandung tak hanya disuguhi panorama kemegahan jembatan dan hijaunya alam Parahyangan. Antara Maswati-Sasaksaat, terdapat terowongan KA terpanjang dijalur aktif ini

Terowongan Sasaksaat sepanjang 956 meter ini dibuat oleh Perusahaan Kereta Belanda milik Negara, yaitu Staatsspoorwegen atau SS pada tahun 1902-1903. Berada di Kampung Sasaksaat, Desa Sumur Bandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

Dulu, pembuatan terowongan ini dilakukan oleh warga pribumi yang dikerjakan sistem kerja paksa dengan cara memahat atau manual, dan dikerjakan siang dan malam biar lebih cepat selesai. Konon dalam pengerjaannya banyak memakan korban sehingga kesan mistis dan seram masih kental.

Beberapa waktu lalu saya dan rekan-rekan pernah mengunjungi terowongan ini dan mencoba masuk kedalam terowongan sampe keujung satunya lagi. Didalamnya terdapat 35 sleko atau tempat berlindung kalo ada kereta, 17 dikiri dan 18 dikanan.

20140205-004404.jpg (Didepan mulut terowongan)

20140205-004553.jpg (Ujung terowongan yang satu lagi)

Diujung kedua terowongan ini terdapat JPTw, atau Juru Penilik Terowongan yang bertugas mengecek keadaan didalam terowongan dan mengawal apabila ada KA Kontener Jumbo yang akan masuk kedalam terowongan.

20140205-005039.jpg (Foto: Hafiz, MKA edisi 32. Maret, 2009)

20140205-014003.jpg

Terowongan Ijo
Terpadat Di Lintas Selatan

20140205-005413.jpg (Foto: Istimewa)

Berada di jalur lintas selatan antara Kroya-Kutoarjo. Inilah terowongan yang terbanyak dilintasi KA. Setiap harinya lebih dari 50 KA yang melintas.

Nama terowongan yang berada diantara Stasiun Ijo-Stasiun Gombong ini sudah tidak asing lagi. Sesuai namanya, terowongan ini terlihata ijo royo royo. Terowongan ini juga pernah populer pas Film Kereta Api Terakhir pernah syuting dilokasi ini.

Bangunan Hikmat nomer 1649 ini panjangannya 580 meter. Dibangun oleh SS pada tahun 1885-1886, untuk menyambung lintas Maos-Yogyakarta dan konstruksinya masih tetap kokoh sampe sekarang.

20140205-010219.jpg (Foto: Tropenmuseum)

Terowongan Notog
Kembarannya Kebasen

20140205-010603.jpg (Foto: Istimewa)

Antara Terowongan Notog dan Kebasen memiliki muka yang sama

20140205-012534.jpg (Foto: Tropenmuseum)

Terowongan bernomor BH 1440 ini memiliki panjang 260 meter dan dibangun oleh SS pada tahun 1915. Diatas terowongan ini terdapat makam tua dan juga makam oara pekerja paksa yang meninggal saat pembangunan terowongan ini.

20140205-011140.jpg (Foto: istimewa)

Terowongan Kebasen
Deket Bibir Sungai Serayu

20140205-011333.jpg (Foto: Istimewa)

Inilah terowongan KA terpendek di Indonesia

Terowongan yang dibuat SS pada tahun 1915 ini bersamaa dengan pembuatan Terowongan Notog, mirip dengan viaduct karena diatasnya terdapat jalan raya yang menghubungkan Purwokerto-Cilacap dan panjang terowongan ini hanya 79 meter.

20140205-012105.jpg (Foto: Tropenmuseum)

Tak jauh dari terowongan, dulunya terdapat rel lintas Maos-Purwokerto milik Serajoedal Stoomtram Maatschappij atau SDS pada tahun 1896. Bekas jalurnya pun masih ada, kaya pondasi jembatan kecil yang berada ditengah Sungai Serayu.

20140205-012442.jpg (Foto: Istimewa)

Terowongan Mrawan dan Garahan
Terobosan Bergaya Eropa

20140205-013104.jpg (Foto: Istimewa)

Bibir terowongannya warna warni. Membuat mata anda sedap memandangnya

Terowongan Mrawan dan Garahan dibangun oleh SS pada tahun 1901-1902. Terowongan Mrawan memiliki panjang 690 meter dan Terowongan Garahan 113 meter.

20140205-013433.jpg (Foto: Istimewa)

Terowongan Mrawan berada diantara Stasiun Mrawan-Stasiun Kalibaru kalo Terwongan Garahan terletak diantara Stasiun Garahan dan Stasiun Mrawan.

20140205-013722.jpg (Foto: Istimewa)

Untuk bagian pertama, sekiranya cukup sampe sini. Untu bagian kedua akan dilanjut dalam waktu dekat.
Maju terus perkerataapian Indonesia, salam S.35.
Salam Rojalu!
Sekian dan terimakasih.

Iklan

Trekking Rel SS Bogor-Maseng

Sebelumnya saya ingin menyampaikan kepada para pembaca, bahwa saya ini bukan orang yang pandai mengarang cerita. Disini saya hanya menulis pengalaman saya dan beberapa teman yang melakukan perjalanan panjang dini hari itu. Jadi sekiranya tulisan saya ini kurang berguna atau bermanfaat, silahkan memilih menu close. Hehehehe

Jakarta, 12 Januari 2014.

Pagi itu saya mendapat pesan singkat dari Ekky dan Danny yang isinya sama yaitu menghajak saya untuk bermalam di depo Jatinegara pada keesokan harinya. Membaca pesan tersebut saya merespon dengan baik ajakan mereka, bagi saya ini adalah kesempatan saya untuk menambah pengetahuan perkereta apian Indonesia. Jujur saja, saat kecil saya memang suka dengan kereta api dan sempat memiliki cita-cita menjadi masinis atau pegawai kereta api.

Jakarta, 13 Januari 2014.

Pagi hari, saya mulai mempersiapkan alat-alat yang akan di pakai untuk acara berkunjung ke depo Jatinegara. Mulai dari tas, kamera, senter dll. Siang harinya saya memberitahu ke Ekky dan Danny bahwa nanti sore saya ke tempat mereka di Depok. Setelah alat perlengkapan selesai di packing dan hari mulai sore, saya berangkat menuju Depok dengan sepeda motor. Saya berangkat jam 17:00 dari rumah, sampai di Depok tepatnya di Warung Bakso Wonogiri seberang pintu masuk stasiun Depok Baru pukul 18:00. Oh iya, warung bakso ini adalah tempat usaha orang tuanya Ekky dan Danny. Bakso dan mie ayamnya enak, promosi dikit ya? Hehehehe. Sesampainya disana, saya ketemu Danny dan ngobrol-ngobrol sambil menunggu Ekky datang. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Ekky datang. Kita bertiga ngobrol sambil ngopi-ngopi, disela obrolan Ekky memberitahu ke saya bahwa rencana ke depo kemungkinan besar batal dikarenakan beberapa rekan Ekky tidak bisa berangkat dengan alasan mengalami musibah kebanjiran. Disini saya mulai sedikit drop, tetapi saya mencoba untuk realistis dengan keadaan cuaca yang beberapa hari memang sedang tidak bersahabat dengan Jakarta. Saya mulai berfikir mencari alternatif atau mencari pengganti acara ke depo itu. Saya coba menawarkan rencana untuk bermalam dan hunting kereta Pangrango di stasiun Bogor keesokan harinya kepada Ekky dan Danny, merekapun merespon ajakan saya. Akhirnya kami memutuskan jalan ke Bogor dengan KRL terakhir ke Bogor melalui stasiun Depok Baru. Merasa kekurangan personil, Ekky mencoba menghubungi Lutfi (Bogel) dan Danny menghubungi Arga (Jawa). Bogel memberi jawaban bahwa dia siap ikut, sementara Jawa yang tinggal di Bogor belum bisa memberi kepastian. Okelah buat saya jika Jawa memang tidak bisa ya tidak perlu dipaksakan. Beberapa lama kemudian muncullah Bogel dan waktu menunjukkan pukul 21:00, waktunya untuk menutup warung dan bersiap-siap berkemas barang bawaan bagi Ekky dan Danny. Pukul 23:00 kami berangkat menuju stasiun Depok Baru, sambil menunggu kereta terakhir kami bersenda gurau di peron.

Depok, 14 Januari 2014.

Pukul 00:30, KRL terakhir ke Bogor masuk stasiun Depok baru dan kami bersiap-siap memulai perjalanan yang biasa kami sebut “Mengejar Matahari”. Didalam KRL kami tetap bersenda gurau melihat beberapa penumpang yang sudah lelah, sampai ada yang tidur dengan nyenyaknya di bangku kereta, serasa bangku kereta itu adalah kasur dalam kamarnya. Selama perjalanan menuju ke Bogor, Danny mencoba menghubungi Jawa untuk mengetahui kepastian ia jadi atau tidaknya dalam acara kami ini? Sedikit info bahwa Jawa baru sekali ini ikut dalam acara mengejar matahari. Akhirnya Danny mendapat kepastian bahwa jawa jadi ikut dengan kami, disinilah otak jail saya bekerja. Saya memulai rencana bahwa sampai di Bogor nanti akan merubah rencana awal yang hanya menginap distasiun Bogor menjadi acara trekking rail Bogor – Batu Tulis.

Bogor, 14 Januari 2014.

Pukul 01:00 kami sampai di stasiun Bogor, sesampainya di stasiun saya dan kawan-kawan menyempatkan diri untuk foto KRL yang sedang istirahat di stasiun ini sebelum nantinya kami keluar stasiun untuk menemui Jawa. Setelah beberapa kali jepretan, kami bergegas keluar stasiun melalui pintu barat. Sesampainya diluar, jawa sudah menunggu kami di atas motornya dan kami langsung menghampirinya. Lalu jawa bertanya kepada kami, sekarang mau ngopi dimana?. Sebelum yang lain menjawab saya menjawab pertanyaan Jawa, siapa yang mau ngopi? Kita kesini mau trakking ke Batu Tulis, lu mau ikut engga?. Mendengar jawaban tersebut si Jawa agak sedikit bingung, lalu Danny berkata Kalau lu mau ikut, buruan deh parkir motor lu di parkiran stasiun. Singkat kata Jawa ikut kami dan kami mulai berjalan menuju stasiun Paledang, dan terus berjalan menuju stasiun Batu Tulis. Di tengah perjalanan dari stasiun Paledang, Ekky berkata wah ini nih terowongan Paledang tempat kemarin di acara Mr. Tukul. Sebelum suasana menjadi tegang, saya coba mengalihkan pembicaraan dan mengeluarkan senter karena daerah dekat terowongan tersebut agak gelap. Semakin mendekat terowongan Paledang, semakin sunyi suasana daerah tersebut, lalu kami tetap terus berjalan dan saya mulai menyenteri sekitar terowongan itu sambil berkata dalam hati permisi kami hanya mau lewat tidak ada niat mengganggu. Hehehe merinding disko juga bos pas lewat situ, lalu kami terus berjalan lagi melewati jembatan BTM yang pendek tapi cukup mengetes nyali. Karena dibawah jembatan tersebut langsung jalan raya, jadi butuh konsentrasi tinggi untuk melewatinya. Alhamdulillah kami bisa melewati dan terus berjalan sampai ke pintu perlintasan BNR, disini kami beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Kami memesan kopi dan merokok sambil berbincang-bincang tentang apa yang baru saja kami lalui. Setelah 30 menit beristirahat kami melanjutkan perjalanan menuju stasiun Batu Tulis, tidak begitu lama perjalanan dan tidak terlalu banyak tantangan dalam jalur ini akhirnya kami sampai di stasiun Batu Tulis yang cukup sepi. Sesampainya disini Danny dan Jawa mencari kamar kecil, sementara itu saya, Ekky dan bogel langsung menuju ruang tunggu. Di ruang tunggu ada papan pengumuman jadwal kereta api dan saya mata saya tertuju sama satu nama stasiun yaitu Maseng, di dalam benak saya bahwa stasiun ini sepertinya menarik untuk di tuju dan nampaknya tidak terlalu jauh dari stasiun Batu Tulis karena melihat dari jadwal perjalanan kereta itu hanya di tempuh dengan waktu -/+ 30 menit. Setelah semua kumpul, saya mulai berbicara kepada Danny, Ekky, Bogel dan Jawa tentang ide saya untuk melanjutkan perjalanan menuju stasiun Maseng. Agak lama menunggu jawaban dari mereka dan akhirnya mereka setuju untuk melanjutkan perjalanan ke Maseng. Berbekal senter dan air mineral 600ml serta setelah berfoto-foto narsis ria di stasiun Batu Tulis kami memulai perjalanan menuju Maseng tepat pada pukul 03:00. Kami berjalan terus ke arah timur melalui pemukiman warga di pinggir rel tanpa ada rasa lelah sedikitpun dalam benak kami, 45 menit sudah kami berjalan dan kami sudah tidak melihat pemukiman warga atau desa di pinggir rel. Yang kami rasakan hanya suara aliran air sungai disebelah kanan kami dan suara hembusan pepohonan di kiri kami, kami merasa bahwa kami akan berjalan menembus hutan. Ya benar saja tak lama kami berjalan terus kedepan, kami di hadapkan dengan pemandangan yang cukup gelap dan sedikit jelas tentang dikiri kanan rel ini menjulang tinggi barisan pohon di bebukitan. Disini saya merasa mental saya teruji, saya hanya berucap bismillah dalam hati dan meyakinkan diri bahwa saya harus kuat untuk memimpin perjalanan ini dengan segala resiko. Saya bertanggung jawab penuh atas diri kawan-kawan saya, karena semua ini adalah ide saya. Berbekal keyakinan dan mental yang cukup, saya mencoba terus meyakinkan kawan-kawan saya bahwa kita pasti mampu melewati semua ini. Kami terus berjalan entah berapa lama harus melewati hutan tersebut, kami terus ngobrol untuk memecah kesunyian. Dalam perjalanan panjang membelah hutan itu kami bertemu dengan sepasang suami istri yang berjalan kami dari arah berlawanan, asumsi saya bahwa di depan sana ada pemukiman warga atau desa. Kami terus berjalan dan beberapa saat kemudian kami berjumpa dengan seorang bapak yang hendak berdagang sayur mayur berjalan dari arah berlawanan, disitu kami memanfaatkan untuk bertanya kepada beliau letak stasiun Maseng. Kami mendapat info bahwa stasiun Maseng tidak begitu jauh setelah halte Ciomas depan sana, lalu kami berjalan kembali dan beristirahat sejenak di halte Ciomas. Sementara yang lain beristirahat, saya mencoba mencari info kepada petugas yang ada disana tentang keberadaan stasiun Maseng. Saya mendapat info bahwa Maseng masih sangat jauh dan disarankan untuk tidak melanjutkan perjalanan kesana, dalam hati saya bertanya ada apakah di depan sana? Ini yang membuat saya penasaran dan segera menemui kawan-kawan saya. Ekky bertanya kepada saya apa Maseng masih jauh? Saya jawab iya Maseng masih jauh, lalu saya yakinkan ke mereka bahwa kita bisa sampai sana sebelum pukul 06:00. Setelah terasa cukup istirahat di Ciomas, pukul 04:15 kami melanjutkan perjalanan dengan keyakinan penuh dan sisa air mineral 300ml. Kami berjalan lagi melewati pemukiman warga dan berjumpa dengan jembatan kereta yang bisa di lewati oleh motor, setelah jembatan itu kami kembali memasuki hutan yang cukup menegangkan. Saya mulai merasa agak berat di pundak dan sedikit merinding ketika memasuki jalur ini, saya percaya bahwa mahluk gaib ada tetapi saya lebih percaya bahwa Tuhan bersama kami. Saya terus ajak mereka ngobrol dalam perjalanan, agar semua tetap fokus dan konsentrasi dalam perjalanan. Lama kami berjalan kaki entah berapa KM sudah kami lalui dan kami kembali dihadapkan oleh satu tantangan yang memacu adrenalin, kami harus melewati satu jembatan yang cukup panjang dan bantalana keretanya agak licin. Satu persatu dari kami melewati jembatan tersebut, pertama Ekky di susul oleh Bogel, lalu Danny, kemudian saya dan terakhir Jawa. Di tengah jembatan itu alas sepatu saya terasa licin dan saya hampir tergelincir, akhirnya saya memutuskan untuk merangkak melewati jembatan tersebut. Momen ini yang menjadi hiburan bagi kami, dimana Ekky berkata bakal memotret saya yang sedang merangkak. Hahahaha saya masa bodo deh mau di foto juga, yang penting saya selamat sampai ujung. Setelah kami semua bisa melewati jembatan tersebut, kami kembali jalan dan di tengah perjalanan salah satu dari kami si Jawa merasa kelelahan akhirnya kami memutuskan istirahat sejenak di tempat yang agak terbuka agar kami bisa melihat sekitar kami benar-benar aman untuk istirahat. Kami beristirahat di jalur rel yang berbelok dengan pemandangan pintu air yang entah apa namanya pintu air tersebut?, saya rasa jika pagi hari pemandangan di daerah tersebut sangatlah bagus. Di daerah tersebut jam tangan saya menunjukkan angka 05:17, dan sesuai kesepakatan bersama pada pukul 05:20 kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Maseng. Setelah beristirahat dan persediaan air minum kami habis, kami melanjutkan perjalanan. Kami terus berjalan seiring berjalannya waktu serta cahaya lampu senter saya mulai tergantikan oleh bias cahaya mentari pagi yang masih malu untuk terbit, kami melihat satu petunjuk bahwa Maseng itu tidak jauh lagi. Petunjuk pertama kami melihat adanya sinyal lengan yang rusak atau sudah tak terpakai, disini kami semakin semangat untuk berjalan, kami terus berjalan dan akhirnya kami berjumpa dengan sinyal lengan kedua yang masih aktif. Ya benar saja bahwa stasiun Maseng tidak jauh dari sinyal itu setelah tikungan ke kiri, kami bisa dengan jelas dan yakin bahwa bangunan di depan kami yang jaraknya -/+ 500m itu adalah stasiun Maseng. Bogel yang posisinya dibelakang saya berlari menuju ke arah stasiun dan kami berempat dibelakangnya Cuma berkata gel bilangin ke kepala stasiun kalau kita datang.

Maseng, 14 Januari 2014.

Pukul 06:00 kami tiba di stasiun Maseng dan rasa lelah sudah tidak kami hiraukan, yang ada dibenak saya adalah rasa syukur kepada Tuhan yang sebanyak-banyaknya. Bersyukur karena kami sampai disini dalam keadaan sehat dan tidak banyak mengalami rintangan yang kami lewati, bersyukur melihat keceriaan wajah kawan-kawan saya. Sementara yang lain beristirahat, saya mencoba mencari warung disekitar stasiun untuk membeli air minum dan beberapa roti untuk menggantikan tenaga kami yang sudah habis selama perjalanan. Sambil menikmati pemandangan sekitar, kami bersenda gurau dan ngobrol-ngobrol dengan security stasiun dan beberapa PPKA. Kami juga bertanya kepada petugas loket apakah tiket kereta Pangrango masih ada?, lama kami menanti jawaban dari petugas loket yang lagi sibuk karena komputernya error lalu kami mendapat jawaban bahwa tiket kereta Pangrango habis untuk perjalanan ke Bogor pagi ini. Sedikit kecewa mendengarnya tetapi kami tak kehabisan akal dan kembali bertanya soal tiket kereta Pangrango ke arah Sukabumi dan kembali kami mendapat jawaban habis. Disini mulai terlihat wajah frustasi dari si Jawa, ya Jawa agak sedikit panik karena ia habis di telp orang tuanya. Akhirnya Danny dan Ekky berinisiatif untuk mencoba minta bantuan kepada KS agar di usahakan kami bisa naik kereta, tetapi sang KS pun tidak bisa membantu kami karena terbentur oleh peraturan. Kami sadar dalam hal ini kamilah yang salah, maka dari itu kami memutuskan untuk kembali ke Bogor dengan menggunakan angkutan umum lainnya. Sebelum kami kembali ke Bogor, kami menyempatkan diri untuk foto-foto sekitar stasiun dan menunggu kereta Pangrango masuk dari arah Sukabumi. Pukul 06:35 KA. Pangrango memasuki stasiun Maseng, saya dan rekan-rekan sudah siap dengan kamera masing-masing untuk membidik si ular besi incaran kami. Habis membidik si ular besi dan berpose narsis bersama KA. Pangrango dan kereta meninggalkan Maseng menuju Bogor, kami pun beres-beres lalu pamitan dengan KS, PPKA serta security stasiun untuk melanjutkan perjalanan menuju Bogor.
Pukul 07:00 kami berjalan kaki menuju tempat dimana kami bisa naik angkot menuju Bogor, selama perjalanan kami disajikan oleh pemandangan gunung salak yang sangat cantik pagi itu. Sekitar 500m kami berjalan kaki dan kami rasa tempat angkot itu masih jauh, kami memutuskan untuk mencari tumpangan ke depan. Akhirnya kami dapat tumpangan truk pasir yang sengaja saya jegat di tengah jalan, kami pun langsung naik truk yang melewati pertigaan ke kanan Bogor dan ke kiri Cihideung. Kami berharap truk belok kanan dan benar saja truk itu belok kanan, kami pun merasa senang serta berharap truk ini sampai Bogor hehehehe. Tidak lama dari pertigaan, truk itu belok kiri ke arah pemukiman warga dan kami turun untuk kembali mencari tumpangan. Tidak berapa lama akhirnya kami mendapat tumpangan truk lagi dan kembali kami harus menerima kenyataan bahwa kami harus turun sebelum sampai Bogor. Kami jalan kaki kembali dan mencari tumpangan mobil bak terbuka yang mengangkut talas, sang supir bilang ke saya bahwa tidak sampai Bogor. Saya dan kawan-kawan tetap naik mobil tersebut sampai tujuan sang supir, setelah sampai di tujuan sang supir kami berjalan kaki lagi yang lumayan jauh untuk kembali mencari tumpangan. Disaat kami berjalan kaki hendak mencari tumpangan, di depan kami ada mobil bak terbuka yang berhenti mendadak seakan-akan sang supir memberi isyarat kepada kami untuk naik ke mobilnya. Kesempatan ini tidak boleh kami lewatkan dan kami pun di turunkan di pertigaan Batu Tulis, alhamdulillah kami bisa sampai di Batu Tulis tanpa mengeluarkan uang sepeserpun hehehe. Pukul 08:25 kami sudah sampai di Batu Tulis dan kami berjalan kembali mencari sarapan, kami sarapan nasi uduk di pinggir jalan. Setelah kami sarapan kami pun melanjutkan perjalanan menuju stasiun Bogor dengan menggunakan angkot 02, kenapa kami naik angkot? Karena si Jawa sudah panik hahaha. Tak lama berselang kami pun sampai di stasiun Bogor, kami berpisah dengan Jawa di depan parkiran stasiun. Jawa kembali ke rumahnya dan kami masih melanjutkan perjalanan ke Depok Baru dengan KRL.

Depok, 14 Januari 2014.

Sekitar pukul 10:00 saya, Ekky, Danny dan Bogel sampai di stasiun Depok Baru, kemudian bergegas menuju warung bakso untuk beristirahat melepas lelah setelah perjalanan panjang. Kami langsung naik ke lantai atas untuk tidur. Pukul 17:00 saya bangun dan bersih-bersih lalu turun ke bawah untuk ngopi-ngopi dan ngobrol-ngobrol bersama Ekky dan Danny, sementara Bogel sudah pulang di saat saya tidur. Lama kami mengobrol dan jam menunjukkan pukul 20:00, sudah saatnya saya kembali ke rumah. Di saat saya mau pulang Bogel pun datang, terpaksa ngobrol lagi sebentar. Pukul 20:30, saya memutuskan untuk pulang.
Demikian akhir cerita perjalanan dan pengalaman saya bersama rekan-rekan, mungkin bagi pembaca cerita ini tidak menarik sama sekali. bagi saya perjalanan dan pengalaman ini sangat berarti, karena saya mendapatkan pengalaman baru untuk hidup saya.

Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Asik atas karunianya selama kami melakukan petualangan. Terima kasih kepada Danny, Ekky, Lutfi (Bogel), Arga (Jawa) untuk petualangan bersamanya. Terima kasih kepada KS, PPKA dan security Stasiun Maseng yang sudah menyambutkan kami dengan senang hati. Terima Kasih Kepada para supir truk dan mobil bak terbuka yang telah memberi kami tumpangan, berkat kalian kami bisa merasakan Maseng-Bogor hanya Rp. 3000,- hehehe.
Akhir kata, saya selalu percaya dengan kata-kata lu engga akan pernah tahu apa yang ada di depan lu kalau lu sendiri engga berjalan ke depan.

Jayalah terus perkereta apian Indonesia.
Salam Rojalu On Tour, Salam Semboyan 35,

Tulisan dari Goras Samsara.

Lampiran foto

20140116-154101.jpg

20140116-154113.jpg

20140116-154137.jpg

20140116-154153.jpg

20140116-154214.jpg

20140116-154236.jpg

20140116-154245.jpg

20140116-154311.jpg

20140116-154329.jpg

20140116-154349.jpg

20140116-154404.jpg

20140116-154451.jpg

20140116-154517.jpg

20140116-154535.jpg

20140116-154549.jpg

20140116-154632.jpg

20140116-154613.jpg

20140116-154655.jpg

Exploring Mt. Gede

Setelah terhambat beberapa lama, akhirnya baru saya tulis perjalanan saya kali ini. Perjalanan kali ini merupakan pengalaman baru atau pertama kalinya saya naik gunung.

Memang sudah dari lama saya ingin sekali merasakan naik gunung, namun karena perlu fisik dan mental yang besar akhirnya saya sempat berpikir ulang untuk mencoba mendaki gunung.
Sampe pada akhirnya jadilah tanggal 30 November – 1 Desember 2013 kemarin pendakian pertama saya.

Gunung Gede, 2958 mdpl adalah gunung yang akan saya coba daki bersama teman teman saya. Untuk ukuran pemula seperti saya, gunung ini tidaklah terlalu berat, terlebih saya akan melalui jalur Cibodas yang sudah jelas dan tampak jalurnya tidak seperti 2 jalur lainnya yaitu Gunung Putri dan Selabintana.

Malam pukul 02.00 dinihari, saya dan team mulai melakukan pendakian dibawah sinar bulan yang ditemani bintang. Team ini dipimpin oleh Bang Surya dan Bang Ferdi yang sudah malang melintang naik gunung.

Beberapa menit berjalan dari titik kumpul sampailah kita di pos jaga atau pemeriksaan setelah melalui beberapa anak tangga yang akan menuntut kita melalui beberapa pos sampai ke puncak Gede. Di pos jaga tak lupa kita mengabadikan moment didepan sebuah papan besar bertuliskan beberapa informasi di Taman Gunung Gede Pangrango.

20140113-032425.jpg

Selesai berfoto kita terus berjalan, bayangan kesan seram, gelap, sepi, dingin dan mencekam ternyata tidak seperti yang saya pikirkan. Karena malam itu banyak juga yang melakukan pendakian.

Baru beberapa menit berjalan nafas saya mulai terengah-engah, mungkin karena terlalu bersemangat malam itu sampai sampai saya harus berhenti setiap beberapa langkah.

Setelah atur nafas, saya mulai mendapati ritme berjalan santai tanpa membuang banyak nafas dan tenaga. Sampai akhirnya kita berjalan satu jam dan tibalah kita di pos dua yaitu pertigaan Air Terjun Cibeurem. Istirahat beberapa menit, mengatur nafas dan jalan lagi.

Matahari mulai sedikit meraba kulit kami, sekitar pukul 05.10 kita berhenti untuk istirahat dan sebagian melalukan kewajibannya, 2 rakaat.

20140113-034011.jpg

Setelah selesai menunaikan kewajiban, kita lanjut jalan lagi. Dari kejauhan saya mendengar suara air terjun, dan kata Bang Ferdi itu sumber air panas dan kita bakalan lewatin sumber air panas itu yang keluar lewat celah batu dan langsung mengalir ke jurang, kalo gak hati hati kita bisa kepleset dan jatuh ke jurang.

20140113-040109.jpg

20140113-034601.jpg

Setelah melewati sumber air panas tersebut kuta berjalan beberapa menit dan sampilah di pos Kandang Batu, dan banyak pendaki yang sudah stay dengan tendanya. Disini kita duduk sebentar atur nafas. Tadinya kita mau stay dan sarapan disini, tapi akhirnya kita mutusin untuk ngelanjutin sampe ke pos terakhir Kandang Badak.

20140113-035156.jpg

20140113-035417.jpg

Lanjut menuju pos terakhir yaitu kandang badak, saya kaget ada 2 orang bapak bapak yang turun dengan langkah yang cepat sambil membawa dagangannya, yaitu nasi uduk. Wow! Saya kaget, pertama kalinya saya menemukan hal seperti ini. Rupanya pemandangan ini tidak asing bagi para pendaki, terlebih pada musim ramai pendakian. Kebanyakan mereka orang dari desa dikaki gunung dari Gunung Putri atau Selabintana dan mereka mulai naik jam 3 pagi.

Dalam perjalanan menuju Kandang Badak, saya mulai merasa letih dan lesu. Mungkin karena kita belom tidur dan juga belom sarapan. Padahal tinggal beberapa menit lagi sampai, tapi saya harus berjalan pelan dan lama berhenti karena carrier yang saya bawa cukup berat, terlebih saya membawa sebagian logistik.

Tertinggal cukup jauh, akhirnya saya mencoba berjalan cepat. Dengan demikian saya bisa stay istirahat disana lebih cepat dan santai duluan kalo cepat sampai. Sampai di Kandang Badak, teman saya sudah menyiapkan alas dan fly sheet untuk berteduh. Kondisi disana cukup ramai oleh pendaki.

Setelah sampai kira kira pukul 09.00 pagi, saya langsung istirahat sebentar dan langsung mengeluarkan logistik untuk dimasak dan kita makan.
Selesai mengisi perut, saya mencoba memejamkan mata karena lumayan lelah. Perjalanan kita lanjutkan kembali nanti jam 12.00.

Cukup memejamkan mata selama 2 jam kita langung beres beres dan bersiap melakukan perjalanan kembali. Didepan terdapat persimpangan, yaitu ke Puncak Gede dan yang satu ke Puncak Pangrango. Tujuan kita waktu itu adalah Gede.

Trek mulai menanjak dan hanya jalan setapak tanah. Sampai kita melewati Tanjakan Setan, trek mulai berat dan curam. Disini saya selalu berhenti setelah beberapa langkah naik. Cukup kewalahan dan lelah saya akhirnya istirahat dan ketinggalan bersama 3 teman lain. 2 orang sama seperti saya karena pendakian pertama dan yang 1 karena mengalami sedikit masalah pada bagian paha.

Gak mau nyerah begitu aja, saya jalan sendiri meninggalkan 3 teman yg mulai kewalahan menghadapi trek. Bau belerang mulai tercium, itu tandanya kawah dipuncak mulai dekat. Benar jadinya saya melongo melihat dinding raksasa dengan kawah dibawahnya. Itu puncaknya! Saya mulai bersemangat.

Sampai dibibir dinding kawah, saya mendapati Bang Ferdi dan Kakak saya sedang mengambil gambar, Bang Surya terlebih dulu turun ke Surya Kencana untuk memasang tenda.

Ditempat ini memang terbuka sampai kawah dibawahnya. Saya sedikit merinding kali itu, untuk pertama kalinya berada diatas gunung dengan pemandangan yg luar biasa. Rasa hati terharu mau nangis karena ini salah satu dari kebesaran Sang Ilahi.

Puncak masih beberapa ratus meter didepan, tapi kita bertiga istirahat disini sambil nunggu yang lain.

Lanjut kepuncak, pemandangan sangat luar biasa yang saya dapat. Saya berada sejajar dengan awan.

20140113-043230.jpg

20140113-043318.jpg

Wow! Puncak! Untuk pertama kalinya saya berada diketinggian 2958 mdpl. Merinding dan mau nangis, tapi malu hehe. Biar gak ke sorean sampe camping ground Surya Kencana, kita langsung turun ke Surya Kencana.

Trek lumayan sedikit curam tapi berbatu dan beranak tangga. Dengan penuh sabar menuruni anak tangga, akhirnya sampe juga. Surya Kencana, padang edelweis yang cukup luas. Saya menganga melihatnya.

Mungkin cuma segini aja yang bisa diceritain. Pengalaman baru dan yang gak bisa dilupain. Lain waktu mau coba daki gunung yang lain.

20140113-150656.jpg

20140113-150859.jpg

20140113-150922.jpg

20140113-151004.jpg

20140113-151029.jpg

Ayo Kita Keluar

Udah lama gak pernah nulis jadi kepengen nulis hehehe. Kali ini pengen berbagi cerita pengalaman gua selama keluar (baca: berkelana) hehe.
“Ayo Kita Keluar!” Judul diatas gua kutip dari salah satu PM BBM seorang teman yang suka travelling juga kaya gua. Kenapa Ayo Kita Keluar? “Karena diluar sana banyak yang seru, yang bisa dijadikan referensi dan juga menambah pengalaman dan juga pengetahuan” jelas teman gua.

Pertama kalinya gua pergi keluar itu sekitar tahun 2008-an. Waktu itu gua masih SMA kalo gak salah kelas 1. Gua sama temen-temen sekolah waktu itu mau nyoba satu hal yang baru dan belom pernah kita rasain sebelumnya. Ngebolang keluar kota. Emang sih rata-rata udah pernah semua yang namanya keluar kota, tapi kali ini kita tanpa orang tua kita, dengan ongkos yang dicukup-cukupin dan coba survival dikota orang hehehe. Dan diperjalanan kali ini kita bakal tau sifat asli orang orang yang bersama kita, mana yang cuek dengan keadaan susah dan lebih mementingkan diri sendiri, mana yang membantu dan mana yang nyusahin dan juga sebatas mana kemampuan elo untuk bertahan sendiri tanpa orang tua. Entah mengandalkan diri sendiri atau dengan bantuan teman disekitar elo.
Gua bersembilan memutuskan untuk ke Bandung menggunakan kereta api. Disana kita cuma 5 hari, ya emang awalnya untuk mengisi liburan sekolah aja sih dari pada suntuk dan bete di Depok terus. Untuk pertama kalinya juga gua tau sifat teman-teman gua disini, dan juga banyak pengalaman dan juga pelajaran yang gua ambil diperjalanan waktu itu. Kalo buat gua sendiri sih artinya kalo dalam keadaan susah, sebisa mungkin hadapi sendiri jangan mengandalkan teman. Karena temen gua sendiri waktu itu cukup direpotkan oleh gua dan gak ada yang bantu, gua malah dicaci dan dimaki dan dibiarin begitu aja. Oke fine pelajaran pertama.

Travel kedua gua waktu itu ke Bandung lagi, tapi kali ini menggunakan sepeda motor. Gak jauh beda sama keadaan yang pertama kali, tp disini mungkin udah agak sedikit dewasa jadi paham untuk tidak terlalu merepotkan orang lain, ya walau ada aeorang teman gua yang nahan dari awal perjalanan sampe pulang untuk kepentingan sendiri hehehe.

Entah ini perjalan keberapa tapi kali ini gua agak coba untuk lebih jauh, yaitu ke kampung gua, Cilacap, Jawa Tengah. Waktu itu gua kelas 3 SMA. Ini perjalanan pertama gua kesana naik motor berdua sama temen gua. Rencana awalnya mau tahun baruan rame-rame tapi karena gak jelas kabarnya dan sibuk dngan urusan masing-masing, akhirnya gua mutusin ke Bandung lagi dan ujubgnya nerus sampe ke Cilacap. Waktu itu gua gak megang ongkos sampe akhirnya gua jual handphone gua waktu itu Samsung Corby laku 500 ribu dan beli hape butut temen gua Nokia 2650 seharga 24.500 untuk gantinya sbg alat telekomunikasi. Sisanya untuk biaya hidup sama ongkos bensin motor hahaha. Tahun baruan di Bandung dan siangnya lanjut ke Cilacap. Sebelumnya gua juga gak pamit ama orang tua mau ke Cilacap, cuma bilang ke Bandung. Ya akhirnya pas sampe rumah nenek kena omel dari orang rumah sama orang yang dirumah nenek hahaha.

Perjalanan berikutnya juga termasuk perjalanan jauh dan juga entah perjalanan keberapa. Waktu itu gua keabisan tiket kereta untuk ke Jogja/Solo. Kalo naik bus pasti mahal. Akhirnya gua putusin lagi untuk naik motor, dan perjalan terjauh gua pertama kalinya naik motor. Sebelumnya gua pernah ke Lamongan selama seminggu bolos sekolah untuk ikut tour tandang Persija Jakarta di Piala Indonesia, waktu itu naik kereta. Nah, sekarang juga mau nemenin Macan Kemayoran dipartai usiran di Solo. Gua ngerasa ini temen klop banget, mau ngatasin masalah bareng dan susah bareng, emang dasarnya kita sama sama suporter dan udah biasa dengan keadaan susah dan agar saling membantu dan melengkapi, itu salah satu prinsip kebersamaan suporter. Diperjalanan kali ini gua punya temen-temen baru dari Jogja sana, sampe sekarang masih berhubungan baik. Pas di Jogja juga kita ditampung sama anak Cilacap yang kerja disana, mulai dari makan rokok sampe tempat tidur ditanggung sama dia. Dia bilang ini balesan rasa terimakasih dari anak Cilacap karena waktu itu mereka pernah tandang ke Depok kerumah gua dan kerumah nenek gua. Jadi quotes “what you give is what you get” bakalan elo rasain setelah semua yang lo berikan untuk mereka dan siapapun itu mereka. Sebenernya kejadian kaya timbal balik itu gak cuma di Jogja aja yang gua rasain, selama perjalanan lainnya juga sering gua dapet kok hehehe.

Kayanya masih banyak cerita dan pengalaman gua tentang travelling. Tapi kayanya gak bisa gua muat semua dalam tulisan ini, tapi gua mau negesin doang selama travelling ini lo bisa dapetin banyak pengalaman dan pelajaran, suka dan duka, teman-teman baru dari berbagai daerah, bisa mengenal budaya dan yang terpenting kuliner men! Wajib! Hahahaha.

Untuk daerah tertentu banyak hal yang bikin lo kangen dan suatu saat lo bakal balik lagi ketempat itu. Sebagai contohnya kaya Cilacap, gua mau kesana lagi untuk melakukan liputan kesenian magis dari Jawa, yaitu Kesenian Sintren, karena kemaren gua masih penasaran waktu nontonnya pas malem 17 Agustusan yang lalu. Jogja, banyak yang bikin kangen disini, mulai dari sego kucingnya, gudeg, kelompok pengamen yang macem macem, sampe acara dari Keratonnya. Solo/Karanganyar/Sukoharjo, hmm bingun apa yang bikin gua kangen sama kota ini, mungkin nasi tumpang sama wisata alam dikaki gunung Lawu kali yak hahaha. Cirebon, wajib cobain kulinernya, salah satunya Doncang, gak bisa gua ceritain rasanya disini hahaha, oya sama pemandian air panasnya didaerah Kuningan hehehe.

Hmmm masih banyak pokoknyaaaaa, gak bisa gua tulis lagi disini, bingun dan juga lupa karena kebanyakan ehehe. 
Mungkin sekian dulu kali yak hehee. Lain gua tulis lagi lebih terinci ke kotanya dan pengalaman lainnya. See yaa, salam traveller!

Ayo keluar rumah! Karena diluar banyak yang seru menantimu…

20131123-193759.jpg

20131123-193858.jpg

20131123-193925.jpg

20131123-193951.jpg

20131123-194025.jpg

20131123-194049.jpg

20131123-194126.jpg

20131123-194213.jpg

20131123-194241.jpg

20131123-194307.jpg

20131123-194353.jpg

20131123-194340.jpg

Visit to Cipeundeuy Railstation

Berkibarlah Benderaku.

Berkibarlah Benderaku.

Akhir pekan lalu, tepatnya tanggal 6-7 September 2013 saya dan beberapa rekan sesama Railfan mengadakan trip ke Stasiun Cipeundeuy di Daop 2. Bersama 10 orang lainnya, perjalanan kali ini kita menggunakan kereta api, dan yang kita pilih adalah KA Serayu relasi Jakarta Kota – Kroya atau lebih dikenal dengan sebutan Cipuja dan Citrajaya.

Saya berangkat sekitar pukul 5 sore dari rumah menggunakan KRL Comutter Line dari Stasiun Depok Lama menuju Stasiun Jakarta Kota, sistem ticketing yang sekarang saya nilai agak terlalu ribet dibanding sebelumnya. Karena calon penumpang diwajibkan untuk membeli tiket berupa kartu untuk memasuki gate stasiun dan membayar jaminan sebesar Rp.5000,- untuk kartu tersebut, jadi total yang saya bayarkan sebesar Rp.9500,- sampe ke Jakarta Kota. Sampe di Jakarta Kota sekitar setengah 7 saya menunggu rekan saya, Amir dan Ricky, setelah itu menukarkan tiket ke loket, diantrian loket saya bertemu dengan rekan yang lain, Mas Haryo.Abis itu kita menunggu rekan lainnya dipelataran pintu utara stasiun Jakarta Kota sambil merokok, ngopi dan juga ngobrol. Gak lama datang Om Uki, dan kita langsung masuk ke dalam untuk nunggu yang lain.

Tepat pukul 20.45 kereta yang kita tumpangi berangkat dari stasiun Jakarta Kota, masing-masing railfan mendapat tempat berpencaran tidak satu gerbong, saya bersama Amir digerbong 1 tapi beda tempat duduk, Mas Haryo dan temannya digerbong terakhir, Agus dan teman-temannya digerbong 4, Om Uki dan mbak Fitri digerbong 5 (kalo gak salah). Tapi ya namanya railfan, ujung-ujungnya bangku yang mereka bayar seharga Rp.35.000,- akhirnya ditinggal dan lebih milih dibordes gerbong atau sambungan gerbong, entah kenapa saya justru menikmati tempat ini dibanding bangku yang udah saya bayar, tapi beda cerita kalo kereta kelas Eksekutif yang saya tumpangi 😀

Suasana Di Bordes Kereta. (Foto by Om Uki)

Suasana Di Bordes Kereta. (Foto by Om Uki)

Sepanjang perjalanan canda tawa selalu menghiasi saya dan beberapa rekan lainnya, termasuk kejadian ketika salah seorang penumpang menyambangi kita dibordes yang bermaksud untuk menegur salah seorang rekan yang menduduki barang bawaannya dibordes. Ditengah hiruk pikuk yang terjadi dibordes, obrolan kita langsung terdiam ketika seorang penumpang bilang “Mas, tv mas.. mas tv mas…” sambil menunjuk kearah kardus yang ada dibordes. Seketika kita semua terdiam melongo dan diam, orang itu masih terus nyerocos “Mas tv mas..” berulang kali. “Mas itu tv mas, jangan didudukin..”. Ooohh.. Maksudnya itu tv mas isinya, jangan didudukin, emang sih salah satu rekan ada yang asik duduk diatasnya sampe kebingungan. Kita pikir tuh orangnya nawarin kita tv hahahaha. Setelah kejadian tadi jadi bahan obrolan dan lawakan didinginnya gerbong KA Serayu. Ada yang berniat untuk menurukan tv-nya di Stasiun berikutnya, ada yang mau jual juga, ada yang mau bawa ke Cipendeuy dan sebagainyalah pokoknya hahaha.
Oya, biasanya jalur yang kita lewatin ini spot favorit kita semua lho karena lewatin pegunungan, jalan berkelok dan naik turun sama lewatin beberapa jembatan tinggi, sayang kita gak bisa nikmati pemandangan tersebut karena gelap. Yang keliatan cuma titik-titik cahaya dari rumah warga sama lampu jalan tol Cipularang.

Distasiun Kiaracondong, salah satu rekan kita Kang Ricky turun, dia gak bisa ikut ke Cipendeuy karena besoknya harus kerja dan juga karena kecapean, dia sendiri ikut dirombongan karena siangnya ada panggilan interview di daerah Slipi. Dan pulangnya bareng kita naik KA ‘Senja Serayu’.

Singkatnya, kita sampe di Stasiun Cipeundeuy sekitar jam setengah tiga lewat, molor dari gapeka seharusnya. Disana udah ada salah satu rekan dari Daop 5, Kang Adhie, Kang Adhie sampe duluan karena dia naik KA Lodaya dari timur, dan kita juga sempat ketahan di Stasiun Bumi Waluya untuk ngasih jalan KA Lodaya itu dari Solo ke Bandung. Turun dari kereta, kita langsung disambut sama dinginnya udara Cipeundeuy.  Stasiun Cipeundeuy (CPD, +772 m dpl) adalah stasiun kereta api kecil yang terletak di Cinagara, Malangbong, Garut. Nama stasiun ini berasal dari kampung tempat stasiun ini berada. Stasiun ini berada di petak jalur selatan KA pulau Jawa antara Kota Bandung dan Kroya, Cilacap, dan terletak hanya 200 m dari jalan raya Bandung-Tasikmalaya. Stasiun ini dapat dilihat dari jembatan jalan raya tersebut yang melintas di atas rel. Walaupun statusnya hanya sebagai stasiun kecil, namun semua KA, baik itu kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi diwajibkan berhenti di stasiun ini. Tujuannya bukan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang (kecuali KA ekonomi). Kewajiban berhenti ini adalah untuk pemeriksaan rem karena jalur setelah stasiun ini merupakan petak yang cukup terjal naik-turunnya. Rutinitas pemeriksaan rem ini dipicu oleh kecelakaan KA gabungan Galuh dan Kahuripan yang mengalami kecelakaan selepas dari stasiun ini pada tengah malam tahun 1995, didekat jembatan Trowek. Pada saat jalur menurun, rem KA menjadi blong sementara jalan juga menanjak sehingga KA akhirnya terperosok ke dalam jurang yang cukup dalam dan mengakibatkan korban meninggal dan luka-luka, kebanyakan yang meninggal adalah orang yang melompat tanpa menyadari bahwa mereka di atas jembatan. Sejak saat itulah, untuk menghindari kejadian serupa, semua KA baik yang akan ke timur maupun barat diwajibkan berhenti di Stasiun Cipeundeuy. Stasiun Cipeundeuy juga dapat membeli tiket secara online, juga dapat dipesan secara online atau sebelum pemberangkatan. Kereta yang berhenti disini antara lain:

Kereta Api Eksekutif:
Argo Wilis: ke Bandung dan Surabaya Gubeng
Turangga: ke Bandung dan Surabaya GubengKereta Api Bisnis :
Mutiara Selatan: ke Bandung dan Surabaya Gubeng

Kereta Api Eksekutif dan Bisnis :
Lodaya: ke Bandung dan Solo Balapan
Malabar: ke Bandung dan Malang

Kereta Api Ekonomi:
Pasundan: ke Bandung Kiaracondong dan Surabaya Gubeng
Serayu: ke Jakarta Kota dan Kroya
Kutojaya Selatan: ke Bandung Kiaracondong dan Kutoarjo
Kahuripan: ke Padalarang dan Kediri

Setelah semua kumpul, dan langsung mengisi perut kita yang udah laper karena dinginnya suhu, selesai makan kita semua langsung izin sama PPKA yang bertugas saat itu karena Pak KS gak ada malam itu dan menjelaskan kedatangan kita untuk silahturahmi dan trekking sekitar Stasiun serta mengambil beberapa gambar, Om Uki juga gak lupa untuk ngasi bingkisan makanan yang sebelumnya dibeli di Stasiun Jakarta Kota untuk para crew Stasiun yang berjaga malam itu.  Abis itu kita langsung istirahat di musholah untuk mengisi energi karena paginya kita lanjut trekking rel.

Istirahat Di Mushalah Stasiun. (Foto by Om Uki)

Istirahat Di Mushalah Stasiun. (Foto by Om Uki)

Paginya, setelah KA Turangga dari timur, PPKA bilang bahwa jalur kosong sampe pukul 07.20. Sekitar pukul setengah tujuh kurang didinginnya pagi Cipeundeuy kita langsung berangkat trekking menyusuri rel kearah timur, sebelumnya PPKA juga bilang kurang lebih 2km kearah timur ada jembatan, wah pastinya jadi tantangan menarik buat kita untuk nyebrangi jembatan tersebut. Selama perjalanan ke jembatan kita disuguhi pesona alam yang cantik dan juga aktifitas warga sekitar rel, ada anak kecil yang berangkat sekolah, ibu-ibu menyuci pakaian, memomong anaknya, bercocok tanam disawah dan lain-lainnya. Gak lama kemudian, jembatan yang dimaksud akhirnya ketemu, jembatan yang panjang sekitar 20-30 meter dan tinggi dari dasar sekitar 20 meter dan memilik 2 sleko (tempat berlindung bila ada KA yang lewat, 1 kanan dan 1 kiri ) siap untuk diseberangi. Saya yang mencoba pertama, gak lupa meminta beberapa rekan untuk mengabadikan saya dijembatan ini untuk kenangan hehehe, langkah demi langkah saya susurin, sempat pusing dan dengkul yang gemetar akhirnya saya sampe diujung jembatan satunya, disusul om Uki dan yang lainnya. Sebagian tetap diujung sana karena gak berani untuk mencoba menyebrangi jembatannya hehehe. Disini kita juga bertemu seorang JPJ yang bertugas meniliki rel kereta, Apresiasi untuk petugas JPJ ini. Para JPJ bekerja tak mengenal waktu, pagi, siang ataupun malam dan juga cuaca panas, hujan dan dingin, tetap setia mengawasi setiap jengkal rel kereta yang akan dilintasi kereta api. Para JPJ ini adalah urat nadi perkeretaapian di Indonesia, bilamana tak ada mereka, berapa banyak kecelakaan kereta api yang akan terjadi?

Pedagang Kopi dan KA Turangga.

Pedagang Kopi dan KA Turangga.

Pose Dulu Sebelum Trekking. (Foto by Om Uki)

Pose Dulu Sebelum Trekking. (Foto by Om Uki)

Berkumpul Sebelum Trekking.

Berkumpul Sebelum Trekking.

Aktifitas Sekitar Stasiun. (Foto by Om Uki)

Aktifitas Sekitar Stasiun. (Foto by Om Uki)

Ibu dan Anaknya Melintasi Rel. (Foto by Om Uki)

Ibu dan Anaknya Melintasi Rel. (Foto by Om Uki)

Om Uki Lagi Nyusurin Rel.

Om Uki Lagi Nyusurin Rel.

Rombongan Para Railfans.

Rombongan Para Railfans.

Warga Sekitar Memulai Aktivitasnya.

Warga Sekitar Memulai Aktivitasnya.

Pesona Alam Sekitar Cipeundeuy.

Pesona Alam Sekitar Cipeundeuy.

Bertemu Warga Sekitar.

Bertemu Warga Sekitar.

Jembatan KA Kearah Cirahayu.

Jembatan KA Kearah Cirahayu.

Berpose dbibir Jembatan.

Berpose dbibir Jembatan.

Saya Juga Gak Ketinggalan Berpose. (Foto by Om Uki)

Saya Juga Gak Ketinggalan Berpose. (Foto by Om Uki)

Ada Yang Merangkak.

Ada Yang Merangkak.

Bapak Petugas JPJ.

Bapak Petugas JPJ.

Berpose Lagi Setelah Sampe Diujung Jembatan.

Berpose Lagi Setelah Sampe Diujung Jembatan.

Disini kita mencari spot untuk mengabadikan kereta yang akan melintas, saya mengambil sebelah kiri jembatan ke arah Barat dekat dengan bibir sungai. Target kita adalah KA 122 Ekonomi Pasundan, KA yang berangkat dari Kiaracondong tujuan akhir Surabaya Gubeng. KA tersebut melintas dengan cantik dan beberapa rekan mengabadikannya dengan kamera masing-masing, ada yang memotret dan ada yang merekam. Selesai Pasundan lewat, kita langsung balik ke Stasiun untuk sarapan, rekan kita juga ada yang pulang terlebih dahulu karena telah membeli tiket KA Lodaya yang akan berangkat setelah Pasundan tadi. Distasiun, setelah sarapan kita ngobrol-ngobrol sambil menunggu KA selanjutnya dengan beberapa crew yang bertugas pagi ini, obrolan hangat dan ringan serta diriring canda tawa. Sekitar pukul 9, KA Lodaya Pagi masuk, saya mengambil gambar dari spoor 2 Stasiun dan mengabadikan Sang ular besi saat melintasi jembatan jalan raya diatasnya. Rekan kita, Kang Adhie juga naik KA ini untuk kembali ke Sumpiuh lebih awal. Didalam gerbong juga terlihat beberapa penumpang asing naik KA ini, selain KA ini Argo Wilis juga menjadi KA favorit para Bule karena dari dalam mereka akan disuguhi hijaunya alam Parahyangan dipagi hari.
KA Pasundan Melintas Dari Kiaracondong Menuju Surabaya Gubeng.

KA Pasundan Melintas Dari Kiaracondong Menuju Surabaya Gubeng.

Kuliner Diwarung Sekitar Stasiun. (Foto by Om Uki)

Kuliner Diwarung Sekitar Stasiun. (Foto by Om Uki)

PPKA Stasiun Cipeundey. (Foto by Om Uki)

PPKA Stasiun Cipeundey. (Foto by Om Uki)

Mbak Fitri dan PPKA Stasiun Cipeundeuy. (Foto by Om Uki)

Mbak Fitri dan PPKA Stasiun Cipeundeuy. (Foto by Om Uki)

KA Lodaya Siap Masuk Stasiun Cipeundeuy.

KA Lodaya Siap Masuk Stasiun Cipeundeuy.

Disini, kita kedatangan RF dari Daop 2, kang Ayung dari Tasikmalaya, Kang Ayung sendiri teman dari Ricky yang sebelumnya turun di Kiaracondong. Kita ngobrol-ngebrol disekitar ruang tunggu stasiun sambil menunggu KA Argo Wilis masuk. Saya juga sempat berbincang sama salah satu petugas PKD yang bertugas, saya dikira wartawan hahaha. Mungkin karena ngeliat ‘gear’ yang saya bawa dengan lensa yang cukup besar jadi dikira wartawan hehehe. Petugas itu juga ngasih tau dimana aja spot yang bagus untuk mengambil gambar sang Ular Besi dan cerita bakal ada kereta wisata ke Ciwidey.  Para crew terlihat begitu ramah terbukti dengan obrolan saya dan juga rekan lainnya mereka menyambut hangat kedatangan kita, saya juga sempat mengobrol dengan teknisi KA Plasser diruang kabin KA tersebut, jujur, meski sering liat Plasser bolak-balik didepan rumah baru pertama kali saya masuk ke dalam kabinnya hehehehe.  Waktu asik asiknya ngobrol kita dikasih tau Argo Wilis mau masuk, langsung aja saya sama Mas Haryo berlari ke arah jalan raya sekitar 200 meter keluar stasiun untuk mengambil spot dari atas jembatan tersebut.
Plasser Di Spoor 2.

Plasser Di Spoor 2.

KA Argo Wilis Bersiap Memasuki Stasiun Cipeundeuy.

KA Argo Wilis Bersiap Memasuki Stasiun Cipeundeuy.

Plang Nama Stasiun Dipinggir Jalan Raya.

Plang Nama Stasiun Dipinggir Jalan Raya.

Abis Argo Wilis, kita balik lagi ke Stasiun untuk mandi menyegarkan diri dan diskusi hangat pengenalan diri dengan rekan-rekan lainnya sambil menunggu KA Serayu dari timur yang akan bawa kita kembali ke Jakarta. Selesai diskusi hangat kita langsung menuju ke ruang tunggu untuk boarding pass dan berpamitan pulang dengan semua crew stasiun, sebelumnya kita juga ngambil gambar dibawah plang stasiun bareng sama crew stasiun yang bertugas siang itu. Gak lama kereta kita masuk dan semua siap masuk ke gerbong. Selesai pengecekan rem, Semboyan 40 dan 41 yang artinya aspek sinyal aman untuk berangkat sang masinis langsung membunyikan Semboyan 35 yang artinya KA siap aman berangkat.
Bersama Crew dan Teknisi KA di Stasiun Cipeundeuy

Bersama Crew dan Teknisi KA di Stasiun Cipeundeuy

Foto Bareng Yang Jaga Loket, Manis khan :D (Foto by Om Uki)

Foto Bareng Yang Jaga Loket, Manis khan 😀 (Foto by Om Uki)

Sebelumnya kita berterimakasih banyak untuk semua crew stasiun yang udah izinin kita untuk main kesini, bapak marbot mushala yang udah izinin kita istrahat dan tidur dimushala, para pedagang makanan sekitar stasiun yang udah bikin kita kenyang dan warga sekitar stasiun, para peserta Om Uki, Mbak Fitri, Mas Haryo dan temannya, Bang Amir, Kang Ricky, Kang Ayung, Kang Adhie, Agus Nino dan 3 temannya. Oya, sekedar himbauan, saat trekking jangan lupa untuk liat kebawah atau ke rel yang akan kita lewati, karena saya kena jebakan betmen yang masih anget! Hahahaha. Sekian dan terimakasih, salam sepur! 🙂

Mereka Kembali (Metallica Live in Jakarta)

2013-08aug25_pic27

Melalui tulisan ini saya akan berbagi cerita tentang pengalaman saya yang gak akan saya lupain dalam hidup saya. Dimana akan menjadi hari terbaik yang pernah ada dalam hidup saya selama ini. Kenapa saya bilang demikian? Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, saya dapat menyaksikan secara langsung dan dekat menggunakan mata kepala saya sendiri sebuah band Metal yang mempengaruhi industri musik dunia, yang juga salah satu band favorit saya sejak Sekolah Menengah Pertama, Metallica.

2013-08aug25_pic05

Metallica, siapa yang tidak mengenal Metallica? Band yang didirikan di Los Angeles, Amerika Serikat ini kembali menyapa penggemarnya di Indonesia untuk kedua kalinya. Sebelumnya, pada tahun 1993 Metallica pernah membakar Jakarta selama dua malam kala itu. Konser yang berujung ricuh itu masih terekam pada benak personil Metallica. Pada tanggal 25 Agustus 2013 kemarin, band yang beranggotakan James Hetfield (Lead Vocal, Rythm Guitar), Lars Ulrich (Drum), Kirk Hammet (Lead Guitar) dan Robert Trujillo (Bass) kembali menggebrak Jakarta.

2013-08aug25_pic07

Saya pun tak mau ketinggalan momen yang sangat bersejarah ini. Melalui perjuangan yang cukup berat muali dari cari uang dengan cara menagih invest saya yang ada diteman-teman sampai menjual koleksi pribadi saya demi mendapatakan selembar tiket #MetallicaJKT kelas festival seharga Rp.680.000,-. Hal tersebut dikarenakan saya tak mau melewati momen ini, sekarang atau tidak sama sekali! Mungkin saja Metallica tidak mampir kesini lagi, atau butuh waktu yang cukup lama untuk kembali ke Jakarta, bisa juga karena faktor usia mereka yang tua meraka tidak melanjutkan band mereka atau mereka nanti sudah tidak ada lagi didunia karena dipanggil sang pencipta. “Maka hanya orang gila lah yang melewati konser ini di disini, di Jakarta, Indonesia” ucap Wendy Putranto (Executive Editor http://RollingStone.co.id . dan Author RS Music Biz) melalui tweetnya (@wenzrawk).

2013-08aug25_pic09

Setelah penantian yang cukup panjang dan sabar, datanglah hari yang saya tunggu, Minggu 25 Agustus 2013. Saya berjanjian dengan teman saya salah seorang admin komunitas fans klub sepakbola di Jakarta, Yudhi Kusuma namanya, saya memanggilnya opa karena dianggap tetua dikalangan teman-teman lainnya. Biarpun tua, opa ini memiliki jiwa layaknya anak muda jaman sekarang hehehe. Tadinya kita juga janjian buat nonton bareng sama Dimas dan Andi Bachtiar Yusuf, tapi sayangnya kita gak ketemu karena bang Ucup dateng agak sorean karena harus siaran ISL terlebih dahulu. Jadilah kita ngantri di gate merah bareng para metalheads lainnya. Abis nunggu cukup lama akhirnya gate dibuka jam 5 lewat, ngaret dari jadwal semestinya jam 5 pas, setelah dibuka kita langsung lari buat nyari tempat di frontrow biar bisa dengan jelas dan deket sama The Boys (Metallica).

2013-08aug25_pic16

Kita masih harus nunggu lama lagi sekitar 3 jam karena Metallica mainnya jam 8. Selepas ba’da Maghrib, Seringai tampil bebarengan dengan Raisa yang nyanyiin lagu Indonesia Raya terlebih dahulu. Merinding! Satu stadion bergemuruh menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin sama penyanyi cantik ini. Setelah Raisa masuk ke backstage giliran Seringai yang tampil sebagai band opening, mereka menggeber Gelora Bung Karno dengan sekitar 7 lagu hits-nya. Mereka juga sempat featuring sama beberapa musisi metal lokal lainnya seperti Eben (Burgerkill), Stephanus Adjie (Down For Life) dan Stevi Item (Dead Squad, Andra and the Backbone).

2013-08aug25_pic10

Akhirnya inilah yang ditunggu, dilayar besar LED yang terpampang dikanan dan kiri panggung muncul potongan dari film The Bad, The Good and The Ugly berbarengan dengan taping lagu The Ecstasy of Gold, opening taping ini adalah opening wajib bagi Metallica dalam live konser mereka sejak 80an. Merinding! Kesan pertama saat lagu tersebut muncul dibarengi teriakan para metalheads lainnya. Disambung dengan Hit The Lights, muncullah Lars Ulrich ditampilan giant big screen dipanggung dan disusul personil lainnya, perasaan haru, merinding dan mau nangis jadi satu saat itu juga. Mereka kembali lagi setelah 20 tahun lamanya. Untuk pertama kalinya saya bisa lihat langsung mereka didepan muka saya, bisa mendengarkan lagu lagu merak secara langsung dengan telinga saya. Sebelumnya saya hanya bisa melihat mereka hanya di video melalui situs Youtube dan mendengarkan mereka hanya lewat kaset tape atau mp3 dikomputer dan handphone. Perasaan makin terenyuh dan air mata makin tak terbendung saat James Hetfield menyapa dengan ramahnya kepada penonton didepannya, tak bisa berkata banyak, itu yang saya rasakan selama konser berjalan. Dilanjut dengan Master Of Puppets, para penonton tak hentinya menyanyikan lagu bersama sama. Jakarta, 20 tahun lamanya akhirnya kita dapat berjumpa kembali. Waktu yang cukup lama untuk Metallica untuk menyapa kalian disini. Kelihatannya kalian bersemangat sekali malam ini.” kira-kira begitulah ucap James sang vokalis dilanjut lagu Fuel.

2013-08aug25_pic13

“Kalian mau (musik) heavy Jakarta? Metallica akan kasih kalian heavy, baby”, seru Hetfield dan meluncurlah Sad but True. Penampilan yang cukup enerjik untuk usia mereka yang tidak lagi muda, bahkan beberapa metalheads kalah enerjik. Terbukti banyak yang mereka baru 2-3 lagu kecapean, begitu pula dengan saya sendiri hehehe.

2013-08aug25_pic14

Dari beberapa lagu yang dibawakan, saya sedikit kecewa karena  lagu The Day That Never Comes dan Battery tidak dibawakan pada konser malam itu. Tapi tak apalah seenggaknya saya sudah cukup puas dengan tembang-tembang yang mereka bawakan.

2013-08aug25_pic17

Inilah setlist mereka saat konser malam itu di Jakarta.

Main Set:

1. Hit The Lights
2. Master Of Puppets
3. Fuel
4. Ride The Lightning
5. Fade To Black
6. The Four Hoursemen
7. Cyanide
8. Welcome Home (Sanitarium)
9. Sad But True
10. Orion
11. One
12. For Whom The Bell Tolls
13. Bleckened
14. Nothing Else Matters
15. Enter Sandman

Encore:
16. Creeping Death
17. Fight Fire With Fire
18. Seek & Destroy

2013-08aug25_pic26

2013-08aug25_pic24

2013-08aug25_pic22

Mungkin hanya demikian yang dapat saya ceritakan tentang pengalaman saya yang paling hebat saat ini, lain waktu mungkin saya ulas tentang Metallica. Sekian dan terimakasih 🙂 (EDP)

(photo by: http://www.metallica.com Official Web Metallica)

Metallica Live in Jakarta 2013

2013-08aug25_pic02

2013-08aug25_pic01

2013-08aug25_pic27

2013-08aug25_pic26

2013-08aug25_pic25

2013-08aug25_pic24

2013-08aug25_pic23

2013-08aug25_pic22

2013-08aug25_pic21

2013-08aug25_pic20

2013-08aug25_pic19

2013-08aug25_pic18

2013-08aug25_pic17

2013-08aug25_pic16

2013-08aug25_pic15

2013-08aug25_pic14

2013-08aug25_pic13

2013-08aug25_pic12

2013-08aug25_pic11

2013-08aug25_pic10

2013-08aug25_pic09

2013-08aug25_pic08

2013-08aug25_pic07

2013-08aug25_pic06

2013-08aug25_pic05

2013-08aug25_pic04

Metallica Live in Jakarta 2013

Today is the band’s first show in Jakarta in over 20 years. Seringai Band will open the show at 6:45, and Metallica will hit the stage aroun 8pm. What an amazing show to end this run of shows in Asia. That was the loudest I ever heard a crowd sing Sandman in a very long time. Plus a few mosh pits broke out during Seek..

Setlist, Main Set:

1. Hit The Lights
2. Master Of Puppets
3. Fuel
4. Ride The Lightning
5. Fade To BlackFox
6. The Four Hoursemen
7. Cyanide
8. Welcome Home (Sanitarium)
9. Sad But True
10. Orion
11. One
12. For Whom The Bell Tolls
13. Bleckened
14. Nothing Else Matters
15. Enter Sandman

Encore:
16. Creeping Death
17. Fight Fire With Fire
18. Seek & Destroy

Photo taken by Official Metallica Website
http://www.metallica.com

“Aku dan Metallica” Sebuah Tulisan Untuk Webzine Teman.

Sebelumnya, saya diminta teman untuk membuat tulisan yang nantinya akan dimuat pada webzine yang dia kelola, Anotherspace Zine. Alfi, sang pengelola laman tersebut meminta saya untuk memberikan tulisan tentang Metallica dari segi pandang saya dan kenapa saya bisa tertarik sama band tersebut. So let it be written, so let it be done.. 

“No Life ’til Leather” begitu sebuah tweet dari Arian 13, pentolan band Seringai melalui akun twitternya, @aparatmati. Selang beberapa jam kemudian, dia kembali menuliskan ‘Hit The Lights’ melalui akunnya tersebut dengan me-retweet sebuah tweet dari @Blackrock_Entertainment. Belakangan, diketahui Blackrock adalah sebuah Promotor yang mendatangi Metallica ke Jakarta. 

Lantas, apa maksud dari 2 tweet Arian 13 tersebut? Mungkin belom banyak yang paham, tapi lain hal dengan para fans berat Metallica termasuk saya sendiri. “No Life ’til Leather” adalah potongan dari bait lirik Metallica yang berjudul ‘Hit The Lights’. Saya bisa menangkap bahwa mungkin 2 tweet tersebut adalah ‘kode’ dari promotor dan beberapa orang yang terlebih mengetahui bahwa akan ada sesuatu yang besar dalam beberapa bulan kedepan khususnya untuk para metalheads dan fans Metallica. Dan perlu diketahui, Metallica akan melakukan tour ke beberapa negara, Singapura salah satunya. Para fans berat Metallica disini, mungkin sangat berharap Metallica akan mampir ke Indonesia untuk kedua kalinya. Setelah menunggu dan harap-harap cemas menanti kepastian, akhirnya Metallica melalui akun twitter dan web resminya menyatakan akan kembali ke Jakarta untuk kedua kalinya setelah 20 tahun lamanya. So, sudah pasti para metalheads dan fans Metallica di Indonesia menyambut dengan bahagia akan berita tersebut termasuk saya sendiri. 

Terlepas dari itu, ketertarikan saya akan Metallica bermula ketika saya masih duduk dibangku kelas 1 SMP atau sekitar 8-9 tahun lalu. Awalnya, saya memang lebih suka pada aliran musik seperti Classic Rock, Alternative dan Punk. Suatu ketika dua teman saya yaitu Tanhar Kamal dan Fahmi Kamal memperkanalkan saya sebuah band yang tidak begitu asing didengar, Metallica. Sebelumnya saya memang sudah tau akan band tersebut, namun belom pernah sama sekali mendengarkan lagu-lagunya. Duo Kamal bersaudara ini memberikan CD Metallica Black Album untuk saya dengarkan, waktu itu adalah Entersand Man, Wherever I May Roam dan Nothing Else Matters yang saya dengarkan atas referensi mereka berdua. Untuk pertama kalinya pula saya langsung jatuh hati kepada 2 lagu tersebut, diketahui lagu lagu tersebut adalah lagu-lagu yang menjadi hits dijamannya sekitar tahun 1991. Mulai saat itu pula saya mengorek informasi tentang Metallica melalui media internet. Setiap pulang sekolah, tempat yang satu tuju bukan kerumah, melainkan lapak kaset bekas di Stasiun Depok Lama dan Stadiun Depok Baru. Karena saya tau, untuk mendapatkan kaset-kaset tersebut, tidak mungkin ada di toko toko kaset baru, karena rata-rata album mereka ada sebelum saya lahir. 

Dari lapak yang pertama saya datangi, saya berhasil membawa pulang kaset tape Metallica yang Black Album. Perburuan saya akan kaset Metallica tidak sampai disitu, kadang saya pergi kebeberapa lapak kaset bekas di daerah Tebet dan Blok M, tentunya saya tidak sendiri, ada teman saya juga yang kebetulan mencari kaset yang berbau Guns N Roses mulai dari album sampai ke solo album atau proyek band lain dari personel band GNR. Perburuan kaset saya akan Metallica berhasil mendapat banyak album tapi tidak lengkap, karena memang kaset tersebut susah didapat. Kadang saya harus kembali ketempat lapak tersebut 2-3 hari kemudian untuk menunggu pesanan dari tempat lain. Ada hal yang menurut saya lucu saat saya berburu kaset Metallica, kebanyakan para penjual tersebut kaget dan tidak percaya kalau saya yang saat itu bisa dibilang masih kecil suka sama band sekelas Metallica. Dan dari tukang lapak tersebut pula saya diberi referensi mengenai lagu lagu mana saja yang menjadi single dan hits dan album mana saja yang harus saya beli. 

Sangat disayangkan, beberapa koleksi album saya banyak yang hilang, banyak yang pinjem tapi lupa untuk dikembalikan dan ada pula yang hilang saat rumah saya mengalami renovasi besar-besaran. Hingga saat ini, album tape yang tersisa hanya satu, album Somekind Of Monster. Untunglah, seiring perkembangan jaman, saya bisa menyimpan album-album dan lagu-lagu dalam format digital dikomputer. 

Selain dalam bentuk suara digital, saya juga sering menonton live konsernya melalui media internet. Saya pun punya keinginan untuk sekali saja dalam seumur hidup agar bisa menonton langsung Metallica. Andai saya lahir 20 tahun lebih awal, tentunya saya tidak akan melewati 2 malam konser Metallica yang membakar Jakarta di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan pada April 1993 silam. 

Tapi, penantian saya selama beberapa tahun pun jadi kenyataan. Metallica berencana akan menggelar konser keduanya di Jakarta setelah rentan waktu yang agak lama, 20 tahun! Inilah kesempatan terbaik saya bisa melihat Living Legend, Band Metal besar dunia, Metallica dengan mata kepala sendiri secara langsung bukan lewat media internet! Ketika mendengar kabar Metallica mengkonfirmasi akan ke Jakarta, saya langsung menangis. Ya, menangis, tangisan saya ini memiliki 2 arti. Yang pertama, saya bahagia dan terharu mengetahui Metallica akan ke Jakarta, yang kedua adalah tiket. Kenapa tiket? Untuk konser skala besar seperti Metallica ini pastinya tidak akan murah, sekalipun ada yang murah dan bisa saya jangkau saya khawatir akan kehabisan tiket. Dan sejatinya, saya akan menyesal tidak bisa menyaksikan konser tersebut disini, rumah sendiri, Jakarta, Indonesia. 

Maka untuk mendapatkan uang agar bisa terbeli tiket tersebut saya harus mencari ekstra uang. Mulai dari membantu orang tua saya sebagai kasir di rumah makan sampai menjual koleksi barang pribadi. Untuk koleksi barang pribadi, saya tidak mengalami kesulitan untuk menjualnya karena didukung pula dengan gerakan #DemiMetallica ditwitter melalui akun @DemiMetallica. Ternyata bukan hanya saya yang merelakan koleksi pribadinya #DemiMetallica. 

Dalam kurun waktu 5 hari, akhirnya saya dapat membeli sebuah tiket konser #MetallicaJKT kelas Festival seharga Rp. 748.000,- termasuk ppn. Sayapun sempat kembali meneteskan air mata karena bisa mendapatkan tiket tersebut atas usaha dan kerja keras saya sendiri tanpa meminta pada kedua orang tua saya. Dan akhirnya, saya dan beberapa teman saya dan juga para Fans Metallica lainnya tinggal menghitung mundur hari mulai hari ini sampe 25 Agustus 2013. “So let it be written, so let it be done.. We’ll never stop, we’ll never quit, cause we are Metallica”. (EDP)

 

Story from Lebakjero Railstation

Perjalanan kali ini gua dasari dari rasa penasaran gua akan lokasi tersebut, kalo pada mau tau lokasinya emang sering disebut surganya para Railway Photographer. Niat gua kesana berdua sama temen gua, namanya Anto dan sering disapa Embul, dia tertarik buat ikut gua kesana karena dia kagum dan takjub pas liat video yang diunggah disitus Youtube. Setelah banyak berbincang sama Embul maka disepakati kita berdua berangakat tanggal 4-5 Mei 2013 dengan menggunakan motor, kenapa gua pilih motor? Karena selain jarak tempuh yang lumayan, kalo kita make motor bisa lebih irit dan juga terhindar dari kemacetan. Selain itu untuk sampai ke lokasi bisa dibilang agak lumayan sulit, kalo naik Bus ikut jurusan Garut dan langsung turun didepan jalan masuk kedalem stasiun, dan mungkin ongkosnya juga agak mahal. Kalo naik kereta, gak ada kereta langsung dari Jakarta yang berhenti disitu, kalo pun ada kita harus naik KA Patas Purwakarta dari Beos ke Purwakarta terus nyambung lagi KA Lokal Si Mandra relasi Purwakarta-Cibatu.

Seminggu sebelumnya dalam kumpul sama beberapa temen, gua bercerita kalo gua mau motret ke daerah Garut, Jawa Barat. Gua banyak cerita tentang keindahan dan keeksotisan tempat yang gua tuju, Lebakjero. Setelah banyak cerita, gua ngasih liat beberapa foto yang ada dihandphone gua yang diambil dari salah satu forum Railway Photograph di Facebook. Tanpa gua sangka temen gua satu ini tertarik buat ikut gua kesana, emang sih dia juga suka motret. Namanya Dwi, sering dipanggil Chibe. Chibe sendiri adalah temen gua dari SMA dan dia juga suka motret, tapi beda haluan sama gua hehehe. Kurang lengkap rasanya kalo Chibe gak ngajak sahabat sejatinya, Vieky. Vieky atau Gento dia juga samanya suka motret, apalagi dia baru aja beli kamera. Ini juga bakal jadi pengalaman pertama mereka melakukan perjalanan jauh dan motret diluar daerah, sebelumnya mereka biasa motret disekitaran taman yang ada di Depok atau Jakarta.

Selain mereka bertiga, gua juga ngajak beberapa temen gua, Denny atau Bule sama Jais, yang tadinya niat berdua aja malah tambah rame setelah kehadiran Ricko atau Bandot dan Farizka atau Bojong, jadilah kita berdelapan melakukan perjalanan ke Lebakjero, Garut. Kesepakatan kita semua jalan hari Sabtu siang setelah Embul beres-beres dari workshopnya dipasar. Gua naik motor sama Embul, Bule sama Bandot, Jais sama Bojong dan Chibe sama Gento. Perjalanan dimulai dari rumah gua jam 12 siang, dengan rute lewat Jonggol, lanjut Cianjur, Cimahi, Jl. Soekarno-Hatta, Rancaekek, Nagreg dan Garut. Perjalanan yang seharusnya cuma memakan waktu 4-5 jam jadi agak terlambat dari jadwal tiba yang sudah diperkirakan sebelumnya, banyaknya faktor x selamaya perjalananlah yang menghambat kita, termasuk weekend yang sudah pasti jalanan dimana-mana padat.

Sekitar jam 10 malam, kita sudah sampai didepan gapura pintu masuk kesebuah desa yang bernama Lebakjero lengkpa dengan plang stasiunnya, bermodalkan omongan dari orang yang ditemui dijalan, kita terus ikuti jalan tersebut sampe keatas. Naas, kita malah salah jalan dan terus naik keatas gunung yang gelap, sepi, seram dan juga jalanan yang terjal. Entah karena sebuah obsesi atau gak sabar untuk sampe kelokasi, kita berdelapan terus memacu si kuda besi untuk terus merangsek naik keatas gunung tersebut, sampe pada akhirnya gua menemukan sesuatu yang ganjil dan gak beres. Sebelum sampe dipuncak sebuah gunung tersebut gua menghentikan perjalanan-karena saat itu gua paling depan-dan menanyakan keteman yang lain kita bakal terus naik atau kita balik kebawah dan nunggu matahari terbit.

Dari sinilah keadaan berubah menjadi agak menegangkan, sebelumnya dalam perjalanan naik, Embul selalu dapet serangan batin, entah dari para penghuni tersebut atau yang lainnya, sementara gua tetap fokus memeperhatikan jalan dan sibuk berdoa dalam hati. Gua sendiri gak berani buat melihat keadaan sekitar yang gelap, sepi dan mencekam, yang gua tau cuma ada kebun yang dipenuhi beberapa macam pohon. 

Sementara itu Embul terus mendapat serangan batin, akhirnya gua putusin buat turun dan nanya kewarga sekitar, sebelum sampe gunung tersebut kita emang lewati perumah warga. Waktu turun Embul sempet dapat menglihatan berupa cahaya putih deketin dia dan sepanjang perjalanan turun kebawah dia juga selalu mendengar suara tangis perempuan. Belom jauh kita turun, entah dalam keadaan kosong atau gimana, tiba-tiba Bojong jatuh dari motornya. Ngeliat keadaan yang kaya gitu yang lain coba untuk tetap tenang karena gak mau bikin yang lain jadi panik dan lebih takut. Sepanjang perjalanan turun kebawah gua terus ngucapin doa, semoga gak ada apa-apa dan gak terjadi apa-apa buat gua dan teman yang lainnya.

Setelah sampe diperkampungan warga, kita duduk dulu disebuah warung untuk istirahat terlebih Embul dan Bojong yang masih dalam keadaan shock berat setelah kejadian diatas tadi. Kita duduk santai dan nanya warga sekitar lokasi stasiun tersebut dimana, ternyata stasiunnya gak jauh dari pemukiman warga dan memang gangnya agak terpencil jadi gak keliatan. Bapak-bapak yang punya warung sempet shock karena kita baru aja dari atas gunung make motor, kenapa bapak-bapaknya kaget? Karena kesana aja kalo jalan kaki susahnya minta ampun, terlebih kalo siang hari bapak tersebut gak berani naik kekebun sendirian, minmal berdua! Kalo masalah hal diluar akal sehata yang kaya Embul alamin itu emang wajar katanya, terlebih malem hari. Dan akhirnya bapak yang punya warung tadi nganterin kita ke stasiun.

Hati agak sedikit lega setelah kita sampe di depan stasiun, langsung aja gua sama Bule masuk keruang PPKA untuk meminta izin kalo kita mau stay semalem disini, dan siangnya mau motret. Dengan ramah PPKA menyambut kita dan mempersilahkan kita untuk make ruang Kepala Stasiun, kebetulan Pak KS sendiri lagi gak disini, jadi ruang tersebut kosong. Izin udah dipegang kita bisa leluasa ngapain aja disini tapi dengan batasan dan menjaga sikap dan kesopanan disini. Langsung aja kita gelar lesehan buat makan malem rame-rame diemplasemen stasiun, kita juga ngasih 2 nasi bungkus yang kita beli dibawah tadi buat Crew Stasiun yang bertugas. Enggak lama, gua denger dering telepon dari ruang PPKA yang ngasih kabar kalo bakalan ada kereta masuk dari arah Leles (timur, ke Tasikmalaya, Kroya, Jogja terus sampe Surabaya) menuju arah Nagreg (barat, ke Bandung dan terus sampe Jakarta) dan PPKA siap untuk buka sinyal aman untuk KA yang melintas. Lewatlah KA Serayu Malam dari Kroya, Jawa Tengah dengan mengakhiri tujuan di Jakarta Kota. Dari kejauhan, lampunya keliatan meliuk-liuk diantara bukit, disitu aja udah keliatan keren, apalagi kalo siang? Yang lain belom menyadari bahwa bakal ada sesuatu yang bikin mereka takjub dengan keadaan sekitar karena masih gelap.

Dketinggian 818mdpl, kita ngobrol-ngobrol diemplasemen stasiun, gua masih belom ngerti kenapa gua bisa bawa mereka semua keatas gunung yang gelap, seram mencekam dan terjel tadi. Entah karena obsesi gua atau karena rasa penasaran. Suasana yang dingin jadi agak hangat ketika canda tawa mulai mencairkan suasan yang tadi agak tegang, terlepas itu semua kita mulai sedikit melupakan kejadian diatas gunung tadi. Gak lama PPKA membuka sinyal aman lagi, kali KA dari Bandung yang akan melintas ke arah Tasikmalaya, dari kejauhan sorot lampu meliuk-meliuk, yang melintas KA Serayu Malam dari Jakarta dengan tujuan Kroya, Jawa Tengah. Dikehangatan canda tawa tersebut gua sekiti terdiam dan celingak-celinguk setelah baca pesan langsung dari abang gua yang dikirim via bbm yang isinya: “Coba deh lu perhatiin pojokan ruang tunggu stasiun, jangan kedip”. Gua sedikit penasaran dengan isi pesan tersebut tapi gua malah takut mendinginkan suasana yang udah hangat. Yang gua tau ditempat yang dimaksud cuma ada bangku tunggu penumpang yang panjang dipojok dan beberpa motor yang kita parkir. Akhirnya gua ngasih tau pesan tersebut ke Gento sama Embul, yang pada akirnya mereka berdua juga penasaran. Setelah yang lain masuk kedalam ruangan, gua bertiga coba untuk membuktikan isi pesan tersebut, tapi gak nemuin apa-apa.Kejadian aneh malah dirasain Gento, setelah semua masuk, termasuk gua sendiri dia malah kembali keluar ngambil kamera. Disitu dia merasa ada yang nimpukan kearah rel dari ruang tunggu tersebut, ruang tunggu tersebut gak ada orang lagi kecuali cuma bangku tunggu penumpang dan motor kita doang.

Malam makin larut, gua putusin buat tidur, mengingat siangnya gua mau motret keindahan liukan ular besi yang melintas disini. Waktu tidur gua sempet denger sekali semboyan 35 bunyi, entah kereta apa yang melintas.

Sekitar pukul 05.10 kami dibangunkan oleh beberapa pegawai atau crew stasiun, karena lapak tempat kita tidur bakal dipake buat loket tiket yang melayani KA Lokal yang sebentar lagi bakal masuk dari Cibatu. Bergegaslah gua keluar ruangan, dan melihat cahaya sorot lampu lokomotif dari arah Cibatu masuk ke sepur 1 Stasiun Lebakjero. Gak mau kehilanganan moment segeralah gua ambil kamera. Saat keluar stasiun, beberapa penumpang didalam dan diluar kereta sempat terheran-heran karena ngeliat gua dan beberapa teman gua keluar dari ruang kepala stasiun bawa kamera. Mungkin disangkanya wartawan, tapi kok pada kucel baru bangun tidur dan cuma mengenakan switer dan celana training thok. Beberapa teman mencari posisi untuk spot yang bagus. KA Lokal ini bakal disusul sama KA Mutiara Selatan dari arah Tasikmalaya ke Bandung. Jeprat-jepret dari berbagai angle agar dapet posisi dan gambar yang bagus.

Mengingat perut belom keisi, kita beli makanan untuk sarapan. Gak lupa kita juga beli buat para crew stasiun yang tugas pagi itu. Kita makan bareng diemplasemen stasiun dengan view yang lumayan bagus. Setelah makan gua minta izin buat lihat jadwal kereta apa aja dan jam berapa aja yang akan melintas untuk kita abadikan, setelah semua selesai kita langsung bergegas kebukit sebelah kanan stasiun untuk dapet posisi yang bagus saat kereta yang lewat. Gak lama kemudian KA Lodaya relasi Bandung – Solo melintas, beberapa dari kami sudah standby dengan posisi dan senjatanya masing-masing untuk membidik si ular besi melintas, tidak ingin kehilangan moment bagus saat kereta meliuk melewati sisi bukit yang berkelok. Dari dalam kereta kita bisa liat banyak wisatawan domestik maupun luar negeri sedang dimanjakan dengan pemandangan indah sekitar Lebak Jero. Beberapa dari mereka juga ada yang heran melihat kita berada disisi rel kereta, atas bukit dan lainnya dengan kamera ditangan dan terus memotret kereta yang mereka tumpangi. Setelah KA Lodaya, melintas KA Argo Wilis relasi Bandung – Surabaya.

Hari semakin siang dan terik, kita memutuskan untuk balik ke Stasiun untuk istirahat dan mandi karena badan cukup berkeringat waktu naik atau turun dari bukit. Sebagian mandi kesindang yang ada dibawah dekat dengan pemukiman warga, sementara saya sendiri mandi di kamar mandi yang ada di ruang Kepala Stasiun, kapan lagi mandi diketinggian 818mdpl? Hehehehe.Disekitar stasiun juga banyak anak-anak yang bermain disini, adapula warga yang disibukan dengan aktifitas lainnya. Setelah badan segar, kita berisitirahat sambil bersnda gurau satu sama lain sambil menunggu kereta yang akan melintas, dijadwal kereta yang akan melintas adalah KA Serayu Pagi dari Kroya dan KA Serayu Pagi dari Jakarta. Kedua kereta akan melintas sekitar pukul 12 siang. kedua kereta tersebut akan bertemu silang di stasiun Nagreg. Karena cuaca yang terik, saya memutuskan untuk mengabadikan disekitar stasiun saja, tak lama kemudian masuklah KA Serayu dari Kroya dan selang 20 menit KA Serayu dari Jakarta.

KA Serayu tadi jadi objek terakhir kita sebelum meninggalkan Lebak Jero, mengingat kita harus kembali pulang untuk melanjutkan aktivitas seperti biasanya dikemudian hari. Pukul 2 siang kita berpamitan dengan PPKA yang bertugas saat itu, tak lupa kita mengabadikan moment untuk foto bersama dengan PPKA untuk sekedar kenang-kenangan. Setelah semua siap, kami bergegas pulang. Dengan berat hati saya harus meninggalkan tempat ini, rasanya saya pribadi masih belum puas mengabadikan kereta yang melintas disini. Mungkin lain waktu saya akan kembali kesini dan mengabadikan moment indah kereta melintas disini lagi. Sekian.

GambarGambarGambarGambarGambarGambar

Trip Bandung – Cirebon dengan KA Argo Parahyangan, KA Harina dan KA Cirebon Ekspres

Sabtu siang, seperti biasanya rutinitas gua dihari Sabtu adalah bangun disiang bolong dan bermalas-malasan. Karena malem sebelumnya diakhir pekan gua selalu pergi selepas jam 7 malam dan pulang dipagi harinya karena dihari Sabtu gua gak ada jadwal kuliah atau aktifitas penting lainnya. Jam ditangan gua menunjukan pukul 12 siang, ah pasti bakal jadi siang yang panas dan waktu yang pas buat bermalas-malasan pikir gua. Biasanya gua gak pernah beranjak dari kamar sampe matahari terbenam kecuali untuk buang air, makan, atau beli rokok dan kopi untuk menemani aktifitas bermalas-malasan disiang itu. Dan gua mulai beranjak dari kamar ketika matahari mulai terbenam, bergegas kekamar mandi dan siap melakukan rutinitas seperti biasanya di weekend, yaitu pergi keluar sekedar untuk nongkrong dan ngobrol sama temen gua sambil ngopi disebuah kedai kopi kecil dibilangan Nusatara, Depok 1 sampe menjelang subuh dan kembali pulang kerumah untuk melakukan aktifitas lainnya, tidur sampe siang.
 
          Tapi hari itu gua punya rencana lain, ide itu muncul dengan sendirinya. Dengan cepat gua meraih ponsel gua dan coba mengirim pesan kebeberapa teman gua yang sedang berada di Bandung. Sebut aja Uban, dia temen sekelas gua dulu waktu gua bersekolah di SMA Swasta di Kota Depok. Tapi hari itu pesan gua ke dia delay, atau bahasa gaulnya pending. Dari situ gua coba buat ngirim pesan lagi ke temen gua yang lain, emang ada beberapa temen gua yang tinggal di Bandung untuk melanjutkan studinya setelah lulus dari sekolah. Raden, orang yang gua inget lagi kalo dia juga ngekost di Bandung, hubungan gua sama dia sebenernya gak begitu baik pas sekolah dulu, gua sempet musuhan sama dia, terlebih dia juga anak IPA yang beda jurusan sama gua. Tapi pas menjelang lulus gua dan beberapa temen gua yang bermusuhan sama dia agak melupakan perseteruan gua sama dia demi satu tujuan, masuk sekolah bareng dan lulus pun kita harus bareng. Jadilah gua mengontak dia secepat mungkin, tapi belom ada balasan dari dia. Yaudahlah, gua bergegas mandi dan menyiapkan beberapa potong pakaian untuk gua bawa. Setelah semua siap gua bergegas naik angkot dengan tujuan ke Stasiun.
 
          Tiba distasiun Depok Baru, gua langsung aja pesen tiket Comutter Line tujuan Jakarta Kota, dengan maksud turun di Stasiun Gondangdia dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke Stasiun Gambir, mengingat kebijakan PT. KAI yang dengan sepihak menyatakan KRL Comutter Line tidak lagi berhenti distasiun Gambir. Mau gak mau gua harus jalan kaki, walau cuma 5 menti ya lumayan keringetanlah.  Gak lama masuk satu rangkaian Comutter Line dari arah Bogor diperon 1, tapi gua masih disibukan dengan transaksi karcis diloket, alhasil tertinggal gua kereta itu tepat dimana gua berlari menuju kereta tersebut tiba-tiba aja pintu tertutup. Dan lagi-lagi gua harus menunggu kereta berikutnya dari arah Bogor. Sebenernya gua agak ragu buat melanjutkan perjalanan karena ragu untuk mendapatkan tiket Go Show KA Argo Parahyangan, mengingat hari itu adalah hari Sabtu, dimana banyak orang ingin menghabiskan akhir pekan diluar kota termasuk gua. Sambil menunggu KRL, gua coba kembali untuk ngehubungin Uban sama Rade, tapi masih belom ada balasan dari pesan yang gua kirim ke meraka. Ah, yaudahlah, gua laki gua sih urusan tempat berteduh atau tidur gampang, bisa distasiun atau masjid terdekat, yang penting urusan perut gak boleh lupa, apalagi yang namanya kopi dan rokok harus selalu setia menemani gua dalam perjalanan kemanapun atau aktifitas apapun hehehe.
 
          Beberapa saat kemudian masuklah KRL yang akan membawa gua ke Gondangdia, sepenjag perjalan gua Cuma berdiri sambil dengerin beberapa lagu favorit gua, Oasis. Setibanya di Gondangdia, gua turun dan disambut sama beberapa tukang ojek dan bajaj yang menawarkan jasa untuk nganter gua ke Gambir. Ah, 15ribu sampe Gambir?! Mending gua buat beli rokok yang bisa nemenin gua jalan kaki dari Gondangdia ke Gambir. Setelah 5 menit jalan kaki, sampelah gua di Stasiun Gambir, dengan badan rengah-rengoh kalo kata emak gua bilang dan keringet bercucuran, gua duduk dulu buat ngilangin capek. Disitu gua liat loket agak sepi, cuma ada beberap orang antrian aja. Ada juga beberapa orang yang nawarin jasa travel sampe Bandung dengan harga yang sama kaya tiket kereta. Gua lebih milih naik kereta, toh tujuan gua juga cuma mau naik kereta doang hehehe. Sambil istirahat, gua gak lupa buat ngehubungin temen gua lagi yang ada di Bandung, tapi tetep sama belom ada balasan dari mereka berdua. Pas gua liat sebuah tulisan Argo Jati dan Cirebon Ekspress, gua inget ada temen gua di Indramayu, mungkin tujuan gua kesana kalo gak ada kabar dari beberapa temen gua di Bandung. Langusnglah gua ngirim pesan ketemen gua, Wibi. Dia juga temen sekelas gua waktu sekolah, orangnya sedikit gila. Dia melanjutkan studi di Indramayu karena mau jadi tukang minyak, dia kuliah disalahsatu Akedemi Perminyakan di Balongan. Tapi naas bagi gua, lagi-lagi gak ada balesan. Galau pun melanda, gua harus pesen tiket ke Bandung atau ke Cirebon. Akhirnya gua putusin untuk pesen satu tiket KA Argo Parahyangan ke Bandung.

          Tepat pukul 15.35, KA Argo Parahyangan yang gua tumpangin berangkat. Ini kali pertama gua naik KA Argo Parahyangan ke Bandung, sebelumnya dulu pernah waktu kelas 1 SMA sama temen sekolah gua buat liburan. Tapi dulu cuma KA Parahyangan, bukan Argo Parahyangan. KA Parahyangan sendiri akhirnya dihapus trayeknya bersamaan dengan KA Argo Gede yang relasinya sama, yaitu Gambir-Bandung PP. Bedanya KA Parahyangan itu salah satu KA Legendaris yang pernah ada di Indonesia, terhitung sejak tahun 70an KA ini melayani masyarakat Jakarta ataupun Bandung. Dalam 1 rangkaian KA ini dua kelas, yaitu Eksekutif dan Bisnis, tiketnya pun terjangkau, dengan Rp.25.000,- aja bisa ke Bandung untuk kelas Bisnis. Beda dengan KA Argo Gede yang rangkaiannya full Eksekutif. Kedua kereta ini akhirnya dihapus oleh PT. KAI mengingat sepinya okupansi penumpang yang kalah saing dengan moda transportasi darat lainnya berhubung dengan dibukanya jalur Tol baru, Cipularang. Kedua kereta ini harus mengakhiri masa dinasnya ditahun 2011 lalu, dan PT. KAI akhir menyatukan atau demerger antara KA Parahyangan dengan KA Argo Gede menjadi KA Argo Parhayangan atau sering disebut Gopar seperti sekarang ini. Nama ini dipilih setau gua agar tidak menghilangkan KA icon Jakarta-Bandung yang terjenal melegenda, Parahyangan.

          Sepanjang perjalanan di KA Argo Parahyangan gua gak bisa nikmatin pemandangan, karena kursi deket jendela udah terlebih dahulu ditempatin orang. Cuma social media yang nemenin gua sepanjang perjalanan, nyimak tweet dari akun @IRPS_JAKK bahas tentang kereta api jaman dulu sambil dengerin lagu, sesekali gua juga nonton film yang diputar oleh crew KA, Home Alone 2: Lost in New York. Penumpang disebelah gua sebenernya sedikit ngeselin, disitu terdapat dua buah stop kontak untuk dua penumpang, tapi dengan tamaknya dipake dua-duanya untuk dua ponsel supercanggihnya dia. Untung gua bawa powerbank yang gua pinjem dari temen gua untuk melakukan trekking ke Lebakjero seminggu sebelumnya, makasih ya Res hehehe.
 
          Tepat pukul 18.40 kereta masuk stasiun tujuan gua, Bandung. Sebenernya telat 5 menit dari jadwal seharusnya di Gapeka yaitu 18.35, tapi gak masalah sih, toh gua Cuma mau nikmati perjalan menggunakan Ular Besi ini, hahahaha. Sampe staisiun Bandung beberapa temen gua baru bales, Uban, Raden sama Begenk menawarkan untuk nginep ditempatnya, Wibi juga baru bales. Galau lagi gua distasiun, haruskah gua stay di Bandung atau melanjutkan perjalanan ke Cirebon ketempat Wibi? Sambil ngerokok di smoking area stasiun gua coba untuk berpikir dan memutuskan gua harus kemana. Setelah melihat jadwal KA akhirnya gua putuskan untuk berangkat ke Cirebon malem itu juga make KA Harina, relasi Bandung-Semarang Tawang dan berganti nama di Semarang Tawang jadi KA Rajawali untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya Pasar Turi. Akhirnya gua ngirim pesan ke beberapa temen gua yang di Bandung untuk tidak menjemput gua, karena gua mau melanjutkan perjalanan ke Cirebon. Karenanya mungkin gua udah sering main ke Bandung, dan gua bisa ke Bandung lagi kapanpun gua mau karena masih dijangkau dengan kendaraan umum yang lumayan atau kendaraan pribadi, sementara kalo ke Cirebon gua emang udah janji kalo gua bakal main ke tempat teman gua di Indramayu, karena janji adalah utang maka gua bakal nepati janji gua ke Indramayu, dan menaruh utang kembali kebeberapa temen gua yang di Bandung untuk dalam waktu dekat gua bakal berkunjung lagi hehehe.
 
          Bergegaslah gua ke loket untuk pesan satu tiket KA Harina kelas Bisnis ke Cirebon, sebenernya satu rangkaian ini terdiri dari dua kelas, Bisnis sama Eksekutif, mengingat uang yang gua bawa gak banyak jadi yang gua pilih yang agak terjangkau dompet gua ehehe. Transaksi selesai, gua keluar stasiun untuk cari makan, karena dari melek mata tadi gua belum nyentuh makanan sedikitpun kecuali rokok dan beberapa air mineral. Selesai mengisi perut, gua kembali kedalem stasiun, setelah melewati boarding pass gua duduk diruang tunggu sambil ngeliatin kereta yang melintas, KA Lodaya Malam, KA Argo Parahyanga, KRDE Lokal dan beberapa Lokomotif yang mondar-mandir, seru! Hehehehe.
 
          Jam menunjukan pukul 20.30, dibawah rintikan hujan dan udara Bandung yang dingin, gua coba mengusir dingin dengan merokok sambil bersocial media. Gak lama KA Harina masuk dijalur 5 dan bergegaslah gua masuk kedalam kereta. Sebenernya agak kurang seru joyride kereta malem-malem, selain sepi diluar jendela sepanjang perjalanan, pemandangan yang ditemuin cuma gelap, sesekali Nampak lampu rumah warga dari kejauhan. Jam 21.00 kereta bergegas berangkat, yaps! Perjalanan KA kedua gua hari ini berlanjut. Sepanjang perjalanan lagi-lagi gua kembali asik dengan lagu-lagu yang gua putar diponsel gua sambil bergeliat dissocial media dan chatting via bbm. Kebanyakan orang nganggep gua stress, gila, sinting atau apalah gara-gara gua jalan-jalan cuma buat naik kereta tanpa tujuan jelas mau kemana dan ngapain dan…sendirian. Gua Cuma bilang, gua ngelakuin ini karena gua suka sama kereta apai dan ini bakal jadi pengalaman seru gua. Mungkin yang lain berpikir kalo gua itu pemborosan dan buang-buang duit, tapi disitu gua berpikir daripada digunain buat hal negative kaya buat beli ganja, minuman keras, obat-obatan terlarang mending buat tripping menggunakan kereta, akhirnya mereka setuju dan takjub sama statement gua. Emang sih ini bukan perjalan pertama gua, sebelumnya gua juga sering naik kereta cuma sekedar untuk joyride sampe tujuan dan balik lagi, sesekali gua juga motretin kereta dari pintu pas meliuk dibelokan yang lewatin bukit atau trekking untuk cari spot bagus kaya di Lebakjero minggu lalu. Hobi yang aneh, emang banyak orang yang bilang gitu tapi gua tetep enjoy dengan apa yang gua lakuin hehehe.
 
          Ada hal unik yang bikin gua sakit perut karena nahan ketawa dikereta, seorang bapak-bapak minta izin buat duduk disebelah gua karena tempanya dia digunain untuk tidur anaknya yang masih kecil sama istrinya, akhirnya gua persilahkan karena kebetulan sebelah gua kosong. Diperjalanan kereta bakal masuk keterowongan Sasaksaat, disitu gua udah tau bakal gak ada sinyal selama didalem terowongan yang kurang lebih panjananya hamper satu kilometer. Dan bener aja pas masuk terowongan sinyal otomatis ilang, tapi gua kaget pas nengok kesebelah. Ternyata bapak-bapak itu lagi getok-getok ponselnya kesisi bangku untuk sandaran tangan sambil gerutu. “Lho, kok handphone saya gak ada sinyal? Handphone butut atau providernya yang jelek sih?” sambil terus menggetok handphonenya dan sesekali menjulurkan tangannya keudara sambil menggenggam ponselnya. Sakit perut gua menahan tawa karena melihat aksi si bapak itu, mau ketawa keras gak enak karena penumpang udah pada tidur, akhirnya gua ketawa lewat twitter dengan menuliskan “HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA” lewat akun gua.

          Gak terasa akhirnya kereta masuk stasiun Cikampek, kereta agak lumayan lama karena lokomotif yang menarik rangkain harus berputar posisi, jadi posisi duduk kita yang tadinya kedepan setibanya di Cikampek maka posisi kita jadi mundur untuk perjalanan ke Cirebon. Tapi bangku dirangkaian bisa diputar tanpa harus memutar gerbong dan dengan mudah menyesuaikan posisi kembali seperti semula, emang susah buat dijelasin disini intinya itu pengalaman menarik juga buat gua. Sambil nunggu kereta berangkat lagi, gua ke bordes KA untuk merokok, lumayan asemlah ya nahan 3 jam tanpa merokok. Sambil ngerokok dan duduk disitu gua bisa liat aktifitas malam di Stasiun Cikampek yang sepi, ada juga beberapa KA yang melintas kearah Cirebon atau sebaliknya, kaya KA Progo dari Pasar Senen tujuan Lempuyangan, Jogjakarta, KA Tawang Jaya ke Semarang Poncol dan KA Barang dari arah Cirebon ke Jakarta yang ditarik lokomotif terbaru, CC 206. Ini kali pertamanya gua ngeliat langsung CC 206 dilintas, biasanya gua Cuma liat diforum dalam bentuk gambar ataupun video. Hmmm, gagah juga ternyata ya.
 
          Oke, semboyan dari PPKA udah diberi, aspek sinyal aman untuk berangkat kembali. Gua coba untuk puter kursi gua searah denga laju kereta, karena gua ga biasa naik kereta dengan posisi berjalan mundur, yang ada gua mual nanti. Sepanjang perjalanan gua agak sedikit ngantuk, akhirnya gua kerestorasi buat pesen secangkir semangat, kopi favorit gua. Disepanjang perjalanan emag sih crewk restorasi nawarin berbagai macam makanan dan minuman termasuk roti, tapi gua gak psen apa-apa karenanya gua udah cukup terisi perut gua ini dari Bandung. Berjalanlah gua ke gerbong restorasi, disambutlah gua sama seorang prami atau pramugari kereta yang manis ini, namanya Mbak Yeni, orangnya manis, ramah dan murah senyum, dari cara bicaranya gua bisa tau kalo dia orang jawa hehehe, soalnya gua sempet nangkap percakapan dia sama salah satu crew restorasi lainnya make bahasa jawa. Pesanlah gua secangkir semangat dan menunjukan tempat duduk gua buat nanti diantar pesanan gua. Secangkir kopi direstorasi sini harganya lumayan juga, Rp.8000,- untuk per gelasnya, kalo beli di kedai kopi biasa gua nongkrong sih udah dapet 4 gelas tuh hehehehe. Gua anggep aja harga kopinya dua ribu perak, enam ribu peraknya buat bayar senyum manisnya mbak Yeni hehehe.
 
          Gak kerasa, kereta memperlambat lajunya, ini artinya kereta bakal masuk stasiun pemberhentian, Cirebon Kejaksaan. Cirebon sendiri ada dua stasiun yang aktif sebagai pemberhentian kereta disini, salah satu Cirebon Kejaksaan. Stasiun tepat berada ditengah kota Cirebon, stasiun ini Cuma melayani pemberhentian kelas Eksekutif sama Bisnis, satu lagi ada stasiun Cirebon Prujakan, kalo yang khusus unutk kereta Ekonomi aja. Distasiun ini juga terdapat rel percabangan kearah Semarang dan Purwokerto. Gua keluar stasiun dan sudah disambut sama temen gua Wibi dan beberapa teman kostnya. Sambil istirahat sebentar gua sedikit berbincang dan berkenalan dengan beberapa temannya yang ikut menjemput gua, abis itu gua langsung ke loket buat pesen tiket untuk kembali ke Jakarta esok harinya. Tapi naas, tiket hari KA Cirebon Ekspress semuanya ludes untuk kelas Bisnis dan Eksekutif dihari Minggu dan tersisanya hari Senin, dan itu juga Cuma jam 10 pagi. Hmmm, takut gak bangun doang kalo kereta jam segitu mengingat gua dan Wibi punya sama-sama kebiasaan, yaitu begadang.
 
          Abis pesen tiket tujuan pertama kita gak langsung ke kostan Wibi di Balongan, Indramayu tapi mereka ngajak gua kesuatu tempat pemandian air panas di Kuningan, kira-kira jarak tempuh dari Stasiun Cirebon sekitar 45 menit dengan kendaraan bermotor. Langsunglah kita tancap gas menembus jalan yang sepi dan dingin. Sepanjang perjalanan kalo gua perhatiin jalannya persis kaya di Cianjur menuju Cimahi, naik turun bukit, dari sisi bukit keliatan lampu-lampu jalan dan perumahan warga jauh dibawah sono. Akhirnya, tibalah kita ditempat tujuan, Pemandian Air Panas dikaki gunung apa gitu lupa gua, tepatnya di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
 
          Gak pake lama gua langsung nyemplung ke kolam pemandian, badan jadi terasa lebih segar. Kolamnya kebagi tiga, kolam besar itu airnya dingin, kolam sedang airnya hangat, kolam kecil airnya panas kaya Water Dispenser hahaha. Airnya langsung diturunin dari Mata Air digunung, ya kira-kira kaya Ciaterlah. Yang bikin beda tuh disini setiap weekend buka 24 jam, jadi lumayan aneh dan heran aja gua kepemandian air panas jam setengah 2 malem, tapi gak apalah yang penting badan jadi seger. Pengunjung semakin lama semakin sepi, jam juga menunjukan pukul setengah empat pagi, karena kelamaan berendem laperlah kita semua. Setelah semua bilas, kita langsung balik lagi turun ke Cirebon buat cari makanan.
          Kita balik lagi kedepan Stasiun Cirebon Kejaksaan, disitu ada tempat makan diemperan jalan. Nama makanannya sedikit asing nagi gua, namanya Docang. Sekilah mirip sama lontong sayur kalo di Jakarta, yang bikin beda kuahnya bikin seger, warnanya agak kemerahan terus ditaburin kelapa parut sama beberapa sayuran kaya daun singkong, tambahan kerupuk khas Cirebon nambah selera makan jadi maknyos, wah pokoknya lu semua harus nyobain dah! Gak nyesel!
 
          Didepan stasiun gua juga liat ada monumek lok uap B1304, yang gua tau B1305 itu bekas lok yang pernah beroperasi disekitar Cirebon pada masa jayanya lokomotif uap dulu, untungnya masih bisa diselamatkan walau sekarang udah gak bisa jalan dan cuma dijadiin monument lok uap. Seenggaknya masih diselamatkan asset bersejarah perkeretaapian di Indonesia ini.
 
          Selesai makan kita lanjut perjalan ke Balongan, Indramayu ketempat kost Wibi. Pagi itu cukup dingin karena abis ujan, perjalanan ke Indramayu dari Cirebon butuh waktu 1 jam make motor. Sepanjang perjalanan gak ada yang menarik disini karena tipikal jalur pantura ya cuma gitu-gitu aja, beda pas kita mulai masuk ke daerah Indramayu, kita bisa liat pantai yang lumayan deket sama jalan raya, udah gitu banyak kapal-kapal tanker bersandar untuk membawa minyak, mengingat Balongan salah satu tempat pengeboran dan kilang minyak yang cukup besar. Sampe dikostan Wibi, gua langsung cuci muka dan bergegas ke kasur untuk tidur puas mengganti jam tidur gua yang semalem kepake untuk jalan-jalan. Rasanya gak banyak yang bisa gua cerita pas gua tidur hehehe.
 
          Aktifitas setelah gua bangun tidur gak banyak, cuma makan dan nonton tv, sesekali dengerin lagu. Ya gak beda jauh aktifitas bermalas-malasan gua dirumah. Tapi disini gua bisa ketemu lagi sama beberapa temen sekolah gua dulu yang melanjutkan studi yang sama kaya Wibi, ada Mulder sama Jecko. Sebenrnya ada beberapa lagi, tapi mereka beda tempat kost dan agak jauh dari kampus. Sorenya, Wibi ngajak gua buat ke pantai, emang sih pantai disini gak sebagus sama pantai-pantai lain yang pernah gua sambangin. Cuma 15 menit dari kostan Wibi, kita sampe dipantai, gak ada yang menarik, jelas karena bukan pantai komersil untuk tujuan wisata, melainkan dareah perkampungan para nelayan yang banyak bekerja mencari ikan dan dijual ditempat pelalangan ikan, I don’t care, yang penting gua gak suntuk, udah gitu aja. Aktifitas malem hari juga gak beda jauh kaya kebiasaan gua dirumah, cuma males-malesan sambil internetan sambil dengerin lagu. Malem semakin larut, jam ditangan menunjukan pukul 2 dinihari, artinya gua mau gak mau harus tidur karena gua harus bangun pagi buat beres-beres pakaian dan bersipa balik ke Jakarta dengan kereta jam 10 pagi.
 
          Setelah gua bangun jam 8 pagi, gerimis turun. Gua langsung pergi kekamar mandi dan setelai selesai langsung siap-siap. Sarapan pagi itu cuma pake beberapa batang rokok dan secangkir semangat dipagi hari, tepat jam 9 gua langsung tancap gas sama Wibi ke Stasiun Jatibarang, Indramayu. Kenapa dari Jatibarang, karena lebih dekat ketimbang harus ke Cirebon lagi. Suasana sekitar stasiun gak jauh beda sama di stasiun Sidareja, Cilacap kampung gua, ah jadi kangen kampung gua. Setelah Wibi pamit untuk kekampus gua langsung ke pemeriksaan untuk boarding pass dan masuk kedalem stasiun. Stasiunnya cukup gede, dulunya disini ada lintas rel percabangan ke Indramayu sama Balongan, yang gua ketahui udah gak aktif lagi dari tahun 73an. Sisa-sisa peninggalan rel, bangunan stasiun, konstruksi jembatan juga udah gak bisa ditemuin lagi disini. Sayang aset berharga dan bersejarah perkeretaapian disini gak bisa diselamatkan. Rasanya pengen nanti kalo suatu saat gua balik lagi mau trekking menelusuri jalur KA yang gak aktif disini.
 

 

          Tepat 10.30 KA Cirebon Ekspress masuk dari arah Cirebon, inilah kereta yang akan membawa gua ke Jakarta, horeeeeee I’m coning home! Sepanjang perjalanan seperti biasanya gua cuma bisa aktif disocial media dan dengeri lagu karan tempat favorit disebelah jendela ditemapti penumpang yang terlebih dulu naik. Kereta kelas bisnis yang gua naik kali ini beda sama kereta kelas bisnis yang gua naikin dari Bandung, kenapa beda? Karena rangkaian kelas bisnis ini dilengkapin dengan ac split atau ac yang biasanya ada diruangan, hmmm lumayan dingin juga dipagi yang gerimis. Masinis KA terus melajukan keretanya dengan cepat, tanpa berhenti distasiun lain kecuali Jatinegara. Wah cepet ya udah sampe Jatinegara aja, di Jatinegara gua sengaja ke bordes KA karena gua mau liat dipo lokomotif disebelah kanan kereta kalo dari arah Bekasi, disitu gua liat ada banyak lokomotif yang lagi istirahat termasuk CC 206 di Dipo Lok Jatinegara. Oke, sampe distasiun Gambir tepat pukul 13.10. Nantinya pukul 13.30, kereta ini bakal balik lagi ke Cirebon dengan rangkaian dan lokomotif yang sama. Kembali gua jalan kaki ke Gondangdia dari Gambir dengan tujuan naik KRL ke Depok, sekian.